LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I - KESETIMBANGAN KIMIA

 LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

KESETIMBANGAN KIMIA






                            Tanggal Praktikum      : Senin, 14 November 2022
                            Kelompok                   :  2
                            Anggota                      : 1. Dzikrina Ega Amalia (11220960000097)
                                                                 2. Muhammad Fayaadh Rifki (11220960000077)
                                                                 3. Paramitha Puteri Gayatri (11220960000095)
                            Kelas                          : Kimia 1-C

 

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022


 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan

      Prinsip kesetimbangan dapat digunakan di mana kesetimbangan merupakan suatu keadaan konsentrasi semua pereaksi dan produk reaksi tidak lagi berubah. Jika konsentrasi salah satu komponen diperbesar, maka reaksi sistem adalah mengurangi komponen tersebut. Jadi, jika konsentrasi pereaksi diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke kanan dan begitu pula sebaliknya. Prinsip Le Chatelier digunakan pada percobaan ini. Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, konsentrasi, volume, tekanan, dan katalisator. Tetapi dalam percobaan hanya membahas konsentrasi dan volume. 

    Dalam percobaan praktikum ini dilakukan untuk mengetahui konsep kesetimbangan kimia serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Pada percobaan kesetimbangan kimia, metodologi yang digunakan pada perccobaan ini yaitu metodologi kualitatif, yakni praktikan mengamati bahwa sejumlah besar reaksi tidak dapat berlangsung secara sempurna, tetapi lebih cenderung mendekati suatu keadaan atau posisi kesetimbangan.

1.2 Tujuan Percobaan

  1. Mahasiswa mampu mengamati perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan kimia.
  2. Mahasiswa mampu mengamati pengaruh pengenceran terhadap kesetimbangan kimia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

      Kesetimbangan kimia merupakan keadaan dimana dua proses yang berlawanan terjadi dengan laju yang sama. Keadaan setimbang merupakan suatu keadaan dimana konsentrasi seluruh zat tidak mengalami perubahan atau jumlah ion ruas kanan dan ruas kiri sama. Keadaan setimbang dalam reaksi kimia dapat kita temui dalam kehidupan sehari–hari misalnya dalam suatu praktikum. Keadaan suatu zat yang tidak setimbang akan membuat suatu produk yang kita inginkan tidak terbentuk dengan sempurna (Achmad, 1992). 

      Kesetimbangan kimia menjelaskan keadaan dimana laju reaksi maju dan laju reaksi balik sama besar dan di mana konsentrasi reaktan dan produk tetap tidak berubah seiring berjalannya waktu. Keadaan kesetimbangan dinamik ini ditandai dari adanya satu konstanta kesetimbangan. Bergantung pada jenis spesi yang bereaksi, konstanta kesetimbangan dapat dinyatakan dalam molaritas (untuk larutan) atau tekanan parsial (untuk gas). Konstanta kesetimbangan memberi informasi tentang arah akhir dari suatu reaksi reversibel dan konsentrasi–konsentrasi dari campuran kesetimbangannya (Chang, 2004). 

     Keadaan di mana reaksi berlangsung terus-menerus dan kecepatan membentuk zat produk sama dengan kecepatan menguraikan zat pereaksi disebut kesetimbangan dinamik. Reaksi kimia yang dapat balik atau zat-zat produk dapat kembali menjadi zat-zat semula disebut dengan reaksi reversibel. Ciri-ciri kesetimbangan dinamis yaitu reaksi berlangsung terus-menerus dengan arah yang berlawanan, terjadi pada ruang tertutup, suhu, dan tekanan tetap, kecepatan reaksi ke arah produk sama dengan kecepatan reaksi kearah reaktan (zat-zat pereaksi), tidak terjadi perubahan makroskopis, yaitu perubahan yang dapat dilihat, tetapi terjadi perubahan mikroskopis, yaitu perubahan tingkat partikel tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan setiap komponen tetap ada (Oxtoby, 2001). 

      Banyak reaksi-reaksi kimia yang berjalan tidak sempurna artinya reaksi-reaksi tersebut berjalan sampai pada suatu titik dan akhirnya berhenti dengan meninggalkan zat-zat yang tidak bereaksi. Pada temperatur, tekanan dan konsentrasi tertentu, titik pada saat reaksi tersebut berhenti sama. Hubungan antara konsentrasi peraksi dan hasil reaksi tetap. Pada saat ini reaksi dalam keadaan setimbang. Pada saat setimbang, kecepatan reaksi ke kanan sama dengan kecepatan reaksi ke kiri. Kesetimbangan disini merupakan kesetimbangan dinamis, bukan kesetimbangan statis. Jadi sebenarnya reaksi masih ada tetapi karena kecepatannya sama, seakan-akan reaksi berhenti. Atas dasar ini dapat dianggap hampir semua reaksi berhenti pada kesetimbangan. Untuk reaksi sempurna, kesetimbangan sangat berat disebelah kanan. Untuk reaksi yang sangat berat di sebelah kanan. (Sukardjo, 1997:220).

    Sistem kesetimbangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem kesetimbangan homogen dan sistem kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan homogen merupakan kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai kesamaaan fase, sehingga sistem yang terbentuk itu hanya memiliki satu fase. Kesetimbangan heterogen merupakan suatu kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai lebih dari satu fase, sehingga sistem yang terbentuk pun mempunyai lebih dari satu macam fase (Keenan, 1991). 

      Asas Le Chatelier yaitu jika dalam suatu sistem kesetimbangan diberikan aksi, maka sistem akan berubah sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu sekecil mungkin. Beberapa aksi yang dapat menimbulkan perubahan pada sistem kesetimbangan antara lain perubahan konsentrasi, perubahan volume, perubahan tekanan, dan perubahan suhu.

1. Pengaruh perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan  

     Jika konsentrasi salah satu zat ditambah, maka sistem akan bergeser dari arah zat tersebut. Jika konsentrasi salah satu zat dikurangi, maka sistem akan bergeser ke arah zat tersebut. 

2. Pengaruh perubahan suhu terhadap kesetimbangan 

   Jika suhu dinaikkan, maka reaksi akan bergeser ke kiri yaitu reaksi yang bersifat endhothermis. Sebaliknya bila suhu reaksi diturunkan maka reaksi yang akan bergeser ke kanan yaitu reaksi yang bersifat eksothermis. Menaikkan suhu, sama artinya kita meningkatkan kalor atau menambah energi ke dalam sistem, kondisi ini memaksa kalor yang diterima sistem akan dipergunaan, oleh sebab itu reaksi semakin bergerak menuju arah reaksi endoterm. Begitu juga sebaliknya.. 

3. Pengaruh perubahan tekanan atau volume terhadap kesetimbangan 

    Menurut hukum gas ideal, bahwa tekanan berbanding lurus dengan jumlah mol gas dan berbanding terbalik dengan volum. Jika tekanan diperbesar maka jumlah mol juga bertambah dan volume akan mengecil makan kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang jumlah molnya lebih kecil. Begitu juga sebaliknya jika tekanan diperkecil maka jumlah mol juga akan kecil, dan volume akan besar maka kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang jumlah molnya lebih besar.

4. Katalisator 

    Untuk mempercepat proses kesetimbangan kimia, sering dipergunakan zat tambahan lain yatu katalisator. Dalam sistem kesetimbangan, katalisator tidak mempengaruhi letak kesetimbangan, katalisator hanya berperan mempercepat reaksi yang berlangsung, mempercepat terjadinya keadaan setimbang, pada akhir reaksi katalisator akan terbentuk kembali. Katalis tidak dapat menggeser kesetimbangan kimia. 

  Pergeseran kesetimbangan kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah atau konsentrasi zat, volume atau tekanan sistem dan suhu. Bila jumlah zat dikiri pereaksi diperbesar, maka kesetimbangan bergeser ke kanan, begitu pula sebaliknya. Fenomena pergeseran diamati dengan adanya perubahnya warna antara warna pereaksi dengan warna hasil reaksi. Semakin kelam warna hasil reaksi maka dikatakan reaksi mengalami pergeseran ke kanan, begitu pula sebaliknya. 

    Kekelaman warna dipengaruhi antara lain oleh konsentrasi dan tinggi larutan. Bila tinggi larutan sama, kekelaman sebanding dengan konsentrasi. Untuk mengamati kekelaman warna dapat diamatai dengan alat kolorimeter visual atau dengan spektrofotometer. Perbedaan kedua alat ini salah satunya adalah detektor yang digunakan. Pada kolorimeter detektornya adalah mata, sedangkan detektor pada spektrofotometer adalah peralatan elektronik (Nurhasni dan Yusraini DIS, 2017).

    Dalam keadaan kesetimbangan, konsentrasi masing-masing komponen sistem tidak berubah terhadap waktu. Jika besi (III) klorida dicampur dengan kalium tosianat, maka akan terbentuk kesetimbangan dengan reaksi.

                Fe3+(aq)                  +          6SCN2(aq)                           Fe(SN)63+

            Kuning Jingga                     Tak Berwarna                        Merah Darah

    Terjadinya reaksi dapat diamati dengan perubahan warna yang terjadi. Begitu juga dengan pergeseran kesetimbangan dapat diamati melalui perubahan warna dan kekelamannya. Untuk membandingkan kekelaman warna larutan kita akan menggunakan bantuan cahaya, dengan cara analisis berdasarkan perbandingan warna dan kecerahan. Suatu sumber sinar berada di bawah tabung dan tinggi warna diamati di atas tabung. Kekelaman sebanding dengan konsentrasinya karena tinggi atau tebal larutan sama. Pada reaksi kesetimbangan di atas, dengan menambahkan salah satu pereaksi menyebabkan warna larutan bertambah merah kelam, hal ini menunjukkan bahwa Fe(SN)63+ bertambah, berarti kesetimbangan bergeser ke kanan. Sebaliknya jika kekelaman warna kuning meningkat berati Fe3+ atau SCN bertambah atau reaksi bergeser ke kiri. 


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Alat-alat

    Alat-alat yang digunakan oleh praktikan dalam melakukan proses praktikum percobaan kesetimbangan kimia, antara lain; gelas piala 100 mL sebanyak 2 buah, tabung reaksi sebanyak 6 buah, rak tabung sebanyak 1 buah, pipet tetes sebanyak 4 buah, gelas ukur 25 mL sebanyak 1 buah, dan gelas ukur 10 mL sebanyak 1 buah.

3.2 Bahan-bahan

  Bahan-bahan yang digunakan oleh praktikan dalan melakukan proses praktikum percobaan kesetimbangan kimia, antara lain; KSCN 1 M sebanyak 10 mL, FeCl3 1 M sebanyak 10 mL, NaOH 1 M sebanyak 10 mL, dan aquadest sebanyak 250 mL.

3.3 Prosedur Kerja


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan

No

Tabung FeCl3 + KSCN

Pengamatan Visual

1

Kontrol

Berwarna kuning merah bata

2

Campuran + KSCN

Berwarna merah kecoklatan yang semakin kelam

3

Campuran + FeCl3

Berwarna merah kecoklatan yang semakin kelam

4

Campuran + NaOH

Berwarna merah kecoklatan, namun memudar

5

Campuran + 5 ml H2O

Berwarna merah kecoklatan, namun memudar

6

Campuran + ½ dari tabung 5

Berwarna merah kecoklatan, namun sedikit memudar


4. 2 Pembahasan

    Pada percobaan pertama, tabung I digunakan sebagai larutan kontrol yang berwarna kuning bata merah. Pembentukan Fe(SCN)2+ ditandai dengan munculnya warna kuning bata merah, perubahan intensitas ini berkaitan dengankonsentrasi dan menunjukkan arah pergeseran kesetimbangan. Semakin pekat warna larutan, maka konsentrasi FeSCN2+ semakin pekat atau semakin besar. Hal ini mengakibatkan bahwa arah kesetimbangan bergeser ke kanan (Pembentukan Fe(SCN)2+ ). Dalam percobaan pertama ini larutan yang diamati sudah setimbang.

                                 Fe3+(aq)    +          SCN-(aq)          ➙      Fe(SCN)2+(aq)

                                    Kuning          Tak Berwarna                      Merah Bata

    Pada percobaan kedua, larutan kontrol yang ditambahkan dengan tetesan KSCN diketahui bahwa tabung II warnanya berubah menjadi semakin kelam dibandingkan dengan tabung I (kontrol), berdasarkan hal ini diketahui bahwa reaksi bergeser ke arah kanan (produk). Hal ini disebabkan karena ketika campuran ditambahkan KSCN. Sistem akan bergeser ke arah kanan agar tetap dalam keadaan setimbang. Hal ini sejalan dengan teori Le Chatelier yang berbunyi, jika terhadap suatu sistem kesetimbangan dilakukan suatu aksi (tindakan), maka sistem kesetimbangan tersebut akan melakukan reaksi (pergeseran) untuk mengurangi pengaruh aksi tersebut juga (Wahyu, dkk).

    Pada percobaan ketiga ketika campuran ditambahkan dengan tetesan FeCl3, perubahan warna yang terjadi pada tabung III menjadi semakin kelam merah bata dibandingkan tabung I (kontrol) menandakan bahwa kesetimbangan reaksi bergeser ke arah kanan (produk). Hasil yang diperoleh sama dengan pada percobaan kedua. Hal ini merupakan bukti terjadinya pergeseran kesetimbangan ke arah kana sebagai perubahan gas di ruas kiri (Kusnawan, 2006)

Namun, pada percobaan keempat dan kelima, ketika campuran ditambahkan dengan NaOH dan H2O. Perubahan yang semakin memudar menandakan bahwa kesetimbangan reaksi bergeser ke arah kiri (reaktan). Hal ini sesuai dengan asas Le Chatelier.

Pada percobaan kelima terjadi perubahan warna setelah ditambahkan 5 mL aquades warnanya berubah menjadi jingga. Pengenceran menyebabkan konsentrasi larutan berkurang dan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kiri yang di tandai dengan semakin memudarnya warna larutan setiap kali dilakukan pengenceran (Aldyza, 2013). Berbeda dengan larutan kontrol pada tabung reaksi 1 warna yang dihasilkan dari percobaan ini diberlakukan tahap pengenceran sehingga semakin memudarnya warna larutan.

        Pada percobaan keenam yang diperlakukan dengan penambahan ½ dari tabung 5 mengalami perubahan warna yang sedikit memudar menandakan bahwa kesetimbangan reaksi bergeser ke arah kiri (reaktan). Namun warna perubahan tidak sememudar percobaan kelima karena perbedaan volume H2O yang ditambahkan sebanyak 5 ml, sedangkan pada percobaan keenam volume H2O yang ditambahkan berasal dari ½ larutan percobaan kelima.               


BAB V

KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum percobaan kesetimbangan kimia yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa :

1. Jika konsentrasi salah satu zat ditambah, maka sistem akan bergeser dari arah zat tersebut. Jika konsentrasi salah satu zat dikurangi, maka sistem akan bergeser ke arah zat tersebut.

2. Jikap engenceran maka aksinya, yaitu menambah volume sistem reaksinya dan mengurangi volume sistem maka kesetimbangan akan bergeser ke arah koefisien yg besar

DAFTAR PUSTAKA

  Nurhasni, yusraini DIS. 2022. Pedoman Praktikum Kimia Dasar I. UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA. Jakarta.

    Rinanda, Wahyu Okta, Irdoni HS, Nirwana. 2015. Pengaruh Komposisi Katalis H-Zeolit dan Kecepatan Pengadukan Pada Sintesa Plastisizer Butil Oleat. Teknik Kimia. Universitas Riau. Pekanbaru.


LAMPIRAN

No

Tabung FeCl3 + KSCN

Pengamatan Visual

Foto

1

Kontrol

Berwarna kuning tua dan agak keruh

2

+ KSCN

Warna berubah semakin kelam (Merah bata)

3

+ FeCl3

Warna berubah semakin kelas (Orange merah)

4

NaOH

Warna memudar agak kekuningan

5

5 mL air

Warna memudar agak keruh

6

½ dari tabung 5

Warna sedikit memudar


MATERIAL SAFETY DATA SHEET

Aquades (H2O)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Cair

Penampilan : tidak berwarna - Bening - putih air

Bau : tidak berbau

pH : Tidak tersedia.

Titik didih : 100 derajat C

Rumus Molekul : H2O

Bahaya

Mata: Tidak mengiritasi mata.

Kulit: Tidak menyebabkan iritasi pada kulit.

Tertelan: Tidak ada bahaya yang diharapkan dalam penggunaan industri normal.

Penghirupan: Diperkirakan tidak ada bahaya dalam penggunaan industri normal.

Kronis: Tidak ada

Penanganan

Mata: Tidak diperlukan perawatan khusus, karena bahan ini tidak mungkin berbahaya.

Kulit: Tidak diperlukan perawatan khusus, karena bahan ini tidak berbahaya.

Tertelan: Tidak diperlukan perawatan khusus, karena bahan ini diharapkan tidak berbahaya.

Penghirupan: Tidak diperlukan perawatan khusus karena bahan ini tidak mungkin berbahaya jika terhirup. Catatan untuk Dokter: Rawat sesuai gejala dan suportif.

Besi (III) klorida (FeCl3)

Sifat Fisika dan Kimia

Bentuk : Serbuk

Warna : Hijau sampai hitam

Bau : Pedih

Bahaya

dapat menyebabkan korosif pada logam, menyebabkan iritasi pada kulit, dan dapat menyebabkan iritasi pada mata yang serius.

Penanganan

Setelah menghirup: hirup udara segar.

Bila terjadi kontak kulit: Tanggalkan segera semua pakaian yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air. Periksakan ke dokter.

Setelah kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Segera hubungi dokter mata. Lepaskan lensa kontak.

Setelah tertelan: segera beri korban minum air putih (dua gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.

Kalium tiosianat (KSCN)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Kristal

Penampilan : tidak berwarna atau putih

Bau : tidak berbau

Kelarutan : Larut.

Bahaya

Mata : Menyebabkan kemerahan dan nyeri.

Kulit: Dapat menyebabkan iritasi kulit. Berbahaya jika diserap melalui kulit.

Tertelan: Berbahaya jika tertelan. Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan sakit kepala. Dapat menyebabkan mual dan muntah.

Terhirup: Berbahaya jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Paparan yang lama dapat menyebabkan pusing dan kelemahan umum.

Kronis: Penyerapan tiosianat yang berkepanjangan dapat menghasilkan berbagai erupsi kulit, hidung meler, pusing, kram, mual dan muntah.

Penanganan

Mata : Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis segera.

Kulit: Dapatkan bantuan medis segera. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.

Tertelan: Dapatkan bantuan medis segera. JANGAN menginduksi muntah. Jika sadar dan waspada, bilas mulut dan minum 2-4 cangkir susu atau air.

Terhirup: Dapatkan bantuan medis segera. Hapus dari paparan dan pindahkan ke udara segar segera. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Jangan gunakan resusitasi mulut ke mulut jika korban menelan atau menghirup zat tersebut; menginduksi pernapasan buatan perangkat medis pernapasan lain yang sesuai.

Natrium hidroksida (NaOH)

Sifat fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Padat

Penampilan : putih

Bau : Tidak berbau

Kelarutan : Larut.

Identifikasi Bahaya

Menyebabkan luka bakar pada mata dan kulit. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan dan pernafasan. Higroskopis (menyerap kelembaban dari udara).

Mata : Menyebabkan luka bakar pada mata. Dapat menyebabkan kebutaan. Dapat menyebabkan konjungtivitis kimia dan kerusakan kornea.

Kulit : Menyebabkan kulit terbakar. Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus.

Tertelan : Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi saluran pencernaan. Menyebabkan sakit parah, mual, muntah, diare, dan syok.

Inhalasi : Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan kemungkinan koma. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan.

Kronis : Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Efek mungkin tertunda

Pertolongan Pertama

Mata : Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit. Dapatkan bantuan medis segera.

Kulit : Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.

Tertelan : Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri.

Terhirup : Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I - PENGENALAN ALAT LABORATORIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II - PEMBUATAN LARUTAN