LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR III - MATERI DAN PERUBAHANNYA

 LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1

MATERI DAN PERUBAHANNYA



                            
       
                            Tanggal Praktikum      : Senin, 26 September 2022
                            Kelompok                   :  2
                            Anggota                      : 1. Dzikrina Ega Amalia (11220960000097)
                                                                 2. Muhammad Fayaadh Rifki (11220960000077)
                                                                 3. Paramitha Puteri Gayatri (11220960000095)
                            Kelas                          : Kimia 1-C

 

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022


 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan

        Materi merupakan segala sesuatu yang memiliki massa dan dapat menempati suatu ruang. Materi mempunyai dua sifat, yaitu sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifat intensif adalah sifat khas dari suatu materi yang tidak dapat bergantung dar posisi, bentuk, dan panjang. Sifat ekstensif merupakan bukan sifat khas dari materi itu sendiri. Prinsip kerja pada percobaan "materi dan perubahannya" akan dilakukan beberapa percobaan yang memberikan suatu hasil pengamatan mengenai sifat-sifat fisika dan kimia dan perubahan-perubahan fisika dan kimia dari suatu unsur dan senyawa.

1.2 Tujuan Percobaan

  1. Mahasiswa mampu membedakan sifat fisik dari suatu unsur (logam dan non logam).
  2. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan sifat fisik senyawa dan faktor-faktor yang memengaruhi sifat fisik senyawa.
  3. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan sifat kimia dan faktor-faktor yang memengaruhinya dari suatu unsur dan senyawa.
  4. Mahasiswa mampu menentukan apakah suatu zat mengalami perubahan fisika atau perubahan kimia dan menjelaskan ciri-ciri dari kedua perubahan tersebut.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

        Materi adalah setiap objek atau bahan yang membutuhkan ruang dengan jumlah yang diukur oleh suatu sifat yang disebut massa. Secara umum, materi juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa dan menempati suatu volume atau ruang. Materi tersusun atas molekul-molekul dan molekul pun tersusun atas atom-atom. Materi pada umumnya dapat ditemukan dalam empat fasa yang berbeda, yaitu padat, cair, gas, dan plasma (wujud zat). Namun, terdapat pula fasa materi yang lain, seperti kondensat Base-Einstein (Davies, 1992).

        Salah satu cara yang digunakan dalam menggolongkan materi adalah dengan berdasarkan sifat-sifat fisika atau kimianya. Sifat-sifat fisika dan kimia dapat dibagi atas dua golongan; serbasama (homogen) dan serbaneka (heterogen). Materi yang serbasama (homogen) mempunyai sifat fisika dan sifat kimia yang sama dan tetap tanpa melihat banyak zat yang diukur. Materi serbaneka (heterogen) tidak mempunyai sifat-sifat yang tetap. Bila gula dan garam dicampur dapat terlihat sama, tetapi campuran tersebut sebenarnya berupa larutan serbaneka (heterogen) karena pada masing-masing larutan tersebut mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda.

        Sifat fisika meliputi berbagai aspek fisik dari suatu senyawa. Beberapa sifat fisika antara lain; luster, malleability, kerapatan, kekentalan, volume, kelarutan, dan massa. Beberapa perubahan alam dari sifat-sifat fisika ini dapat menjurus pada perubahan fisika (Petrucci, 2007).

        Sifat-sifat kimia adalah sifat yang diukur atau diamati bila zat mengalami perubahan komposisi, di mana harus berlangsung reaksi kimia. Besi berkarat, kayu terbakar, hidrogen meledak, dan uranium meluruh secara radioaktif merupakan beberapa contoh dari sifat kimia. Perubahan kimia dapat diamati seperti pembentukan gas, pembentukan senyawa sulit larut, perubahan warna, terbentuk endapan, dan perubahan suhu.

        Perubahan fisika adalah perubahan yang memengaruhi bentuk zat kimia, namun tidak memengaruhi komposisi kimianya. Perubahan fisika dapat digunakan untuk memisahkan campuran menjai senyawa komponen mereka, tetapi tidak dapat digunakan untuk campuran yang telah bereaksi menjadi senyawa kimia yang berbeda dengan senyawa asalnya. Perubahan fisika terjadi ketika benda atau zat mengalami perubahan yang tidak berubah komposisi kimianya. Ini berbeda dengan konsep perubahan kimia di mana komposisi dan perubahan zat atau satu atau lebih zat menggabungkan atau memisahkan untuk membentuk zat baru. Secara umum, hasil perubahan fisika dapat dikembalikan ke dalam bentuk semula dengan menggunakan sarana fisik. Misalnya, garam yang terlarut di dalam air dapat dipulihkan dengan membiarkan air menguap dengan perantara panas (Zumdahi, 2000).

        Perubahan kimia terjadi ketika suatu zat bereaksi dengan lain unsur membentuk suatu zat baru yang disebut sintesis atau sebaliknya terurai menjadi dua atau lebih zat yang berbeda dan proses ini disebut sebagai reaksi kimia. Secara umum, reaksi kimia tidak bersifat reversible kecuali dengan reaksi kimia yang terjadi, yang disebut dengan reaksi endotermik. Memahami perubahan kimia adalah bagian utama dari ilmu kimia. Letak perbedaan antara reaksi fisika dan reaksi kimia adalah pada komposisi zatnya sebelum an sesudah reaksi. Dalam reaksi kimia, terapat banyak perubahan komposisi dari sebelum reaksi, sedangkan di dalam perubahan fisika terdapat banyak perbedaan alam hal bentuk, bau, tekstur, an sebagainya dari zat yang dimaksud tanpa ada perubahan komposisi zat yang terlibat (Chang, 2006).

         Perubahan kimia yang disertai pengeluaran energi disebut energi eksoterm, energi yang dikeluarkan dapat berubah energi panas listrik, cahaya dan lain-lain.sedangkan perubahan kimia yang disertai penyerapan energi disebut reaksi endoterm. Pada perubahan kimia dihasilkan satu atau lebih materi yang berbeda dari sebelumnya. Suatu perubahan kimia materi yang menghasilkan jenis dan sifat materi berbeda dari zat semula dinamakan perubahan kimia, (perubahan kimia dinamakan juga reaksi kimia). Misalnya pembakaran kayu, jika kayu dibakar akan menghasilkan arang kayu. Jika dibandingkan antara kayu dan arang kayu, keduanya memiliki jenis dan sifat yang berbeda. Karena itu pembakaran kayu bukan perubahan fisika, tetapi tergolong kimia. Dalam perubahan kimia dihasilkan jenis materi yang berbeda dengan materi semula sehingga terdapat dua istilah yang digunakan dalam reaksi kimia yaitu zat semula dinakan reaktan atau pereaksi, sedangkan zat yang terbentuk hasil reaksi. Pada pembakaran kayu dinamakan hasil reaksi. Dalam kehidupan sehari-hari banyak reaksi kimia yang terjadi seperti pada pembakaran minyak bumi, perkaratan besi, dan lainnya. Semua itu menghasilkan zat yang sifat dan jenisnya baru (Sunarya, 2010:11).

        Ketika terjadi reaksi kimia, atom-atom disusun kembali dan reaksi disertai dengan perubahan energi sebagai produk yang baru dihasilkan. Contoh perubahan kimia adalah reaksi kimia adalah reaksi antara natrium dan air untuk menghasilkan natrium hidroksida dan hidrogen. Ini adalah contoh dari perubahan kimia karena produk akhir secara kimiawi berbeda dari zat-zat sebelum reaksi (Chang, 2006).


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Alat-alat

        Alat-alat yang digunakan dalam proses percobaan mengamati sifat-sifat fisika dan kimia suatu unsur dan senyawa, antara lain; gelas piala sebanyak 1 buah, gelas piala 250 mL sebanyak 1 buah, termometer sebanyak 1 buah, tabung reaksi diameter 2 cm sebanyak 1 buah, cawan penguap sebanyak 1 buah, rak tabung reaksi sebanyak 3 buah, tabung reaksi sebanyak 12 buah, batu didih sebanyak 1 buah, hotplate sebanyak 1 buah, bunsen sebanyak 1 buah, penjepit tabung reaksi sebanyak 1 buah, pipet tetes sebanyak 10 buah, dan gelas piala 100 mL sebanyak 1 buah.

3.2 Bahan-bahan

        Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan mengamati sifat-sifat fisika dan kimia suatu unsur dan senyawa, antara lain; botol-botol kecil berisi serbuk aluminium (Al), magnesium (Mg), belerang (S), karbon (C) dan seng (Zn), metil alkohol (CH3OH), iod, sukrosa (C12H22O11), serbuk belerang, kawat tembaga (Cu), padatan kalium dikromat, larutan natrium karbonat, larutan natrium sulfat, larutan timbal (II) nitrat, larutan kalium iodida, metanol, heksana, dan aquades.

3.3 Prosedur Percobaan

a. Pengamatan Sifat-sifat Fisik Unsur

Botol-botol kecil yang berisi unsur-unsur diamati sebagai berikut :

1. Aluminium (Al)

2. Magnesium (Mg)

3. Karbon (C)

4. Belerang (C)

5. Seng (Zn)


b. Kelarutan


c. Pencampuran

d. Reaksi larutan

e. Pemanasan unsur

f. Pemanasan Senyawa


g. Titik Didih


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

NO

KEGIATAN

HASIL PENGAMATAN

 

Mempelajari Sifat-sifat Fisika dan Kimia

1

Pengamatan Sifat-sifat Fisika Unsur

Logam

Non logam

Warna

Bentuk

 

a.       Aluminium

 

Silver

Padatan

 

b.      Magnesium

 

Abu-abu mengkilap

Serbuk Kasar

 

c.       Seng

 

Abu-abu gelap

Serbuk Halus

 

d.      Karbon

 

Hitam

Serbuk Halus

 

e.      Belerang

 

Kuning

Serbuk Halus

2

Titik Didih

Suhu

 

a.       Metanol

68˚C

3

Kelarutan

Larut

Tidak larut

 

a.       Air dan sukrosa

 

 

b.      Air dan naftalen

 

 

c.       Air dan belerang

 

4

Pencampuran

Homogen

Heterogen

 

a.       Air dan metanol

 

 

b.      Air dan heksana

 

 

Mempelajari Perubahan Fisika dan Kimia

5

Perubahan Unsur

Perubahan

 

a.       Cu (s)

Fisika

 

b.      Naftalen

Fisika

6

Pemanasan Senyawa

Perubahan

 

a.       H2O (s)

Fisika

7

Larutan

Perubahan

 

a.       Na2CO3 + HCl

Kimia

 

b.      Na2SO4 + HCl

Kimia

 

c.       NaNO3 + KI

Kimia

 

d.      Pb(NO3)2 + KI

Kimia

4.2 Pembahasan

        Pada pengamatan sifat-sifat fisika dan kimia, pada unsur logam dan non logam dihasilkan pengamatan perubahan fisika berupa bentuk, warna, dan bau. Aluminium (Al) memiliki karakteristik berwarna silver, berbentuk bulat padat dan besar, dan mempunyai salah satu sifat logam, yaitu berwarna silver mengkilap. Magnesium (Mg) berwarna abu-abu mengkilap, berbentuk padatan seperti kerikil, dan tidak berbau. Seng (Zn) berbentuk padatan serbuk, berwarna abu-abu gelap seperti logam. Unsur karbon (C) memiliki sifat unsur berwarna hitam dan berbentuk serbuk halus, tidak berbau, dan unsur karbon merupakan unsur non logam. Sifat yang terdapat pada unsur belerang adalah berwarna kuning, memiliki bau, berbentuk serbuk halus, dan termasuk ke dalam unsur non logam.

        Pada percobaan menentukan titik didih senyawa, didapatkan data ilmiah bahwa senyawa metanol mendidih pada suhu 68˚C, hal ini tidak sesuai dengan kajian literatur yang mengatakan bahwa Metanol yang dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol mempunyai berat molekul 32,043 g/mol dan berwujud cair pada suhu lingkungan dan tekanan atmosferis. Titik didih metanol sebesar 64,7˚C dan mempunyai titik lebur sebesar -98,68˚C. Metanol mempunyai sifat mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (Spencer, 1998). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi dari metanol yang tinggi sehingga titik didih dari metanol berubah menjadi 68˚C, sesuai dengan kajian literatur yaitu Semakin banyak jenis zat terlarut yang dicampurkan maka semakin tinggi pula titik didih larutannya (Laili, Trapsilo, Bambang, 2017). Metanol memiliki ikatan yang lebih stabil dan pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, yaitu titik didih senyawa.  

        Pada proses percobaan menentukan kelarutan unsur dan senyawa, bahan-bahan yang diamati oleh kami ada 3 bahan, yaitu sukrosa, naftalen, dan belerang yang dicampurkan dengan aquades pada masing-masing tabung reaksi. Pada proses kelarutan air dan sukrosa dapat dilihat bahwa sukrosa larut di dalam air dan tidak ditemukannya endapat di dalam tabung reaksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kepolaran dari sukrosa dengan aquades bernilai sama sehingga sukrosa yang berada di dalam air dapat larut sempurna. Pada proses kelarutan air dengan naftalen dan air dengan belerang dapat diamati bahwa naftalen dan belerang tidak larut di dalam air dan ditemukan endapan yang berada di dalam tabung reaksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kepolaran antara naftalen dan belerang dengan air. Diketahui bahwa belerang dan naftalen bersifat non polar sedangkan air bersifat polar, sehingga jika dilarutkan maka naftalen dan belerang tidak akan larut di dalam air dan akan terbentuk endapan. Hal ini sesuai dengan kajian literatur bahwa menurut prinsip like dissolves like, suatu pelarut akan cenderung melarutkan senyawa yang mempunyai tingkat kepolaran yang sama. Pelarut polar akan melarutkan senyawa polar dan sebaliknya (Suryani et al., 2015).

        Pada percobaan pencampuran senyawa diperoleh bahwa metanol dengan air tercampur secara homogen, hal ini disebabkan oleh gaya tarik menarik antara air dan metanol sama besar dan diketahui bahwa metanol bersifat polar. Pada percobaan ini diketahui bahwa ikatan hidrogen terbentuk sehingga mudah antara metanol dengan air bercampur menjadi homogen. Pada percobaan antara air dengan heksana, yang di mana senyawa heksana berada diatas permukaan air, hal ini disebabkan munculnya dua fase. Air merupakan senyawa polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non polar.

        Pada proses percobaan pemanasan unsur, yaitu pembakaran sepotong kawat tembaga dan naftalen. Pada proses pemanasan sepotong kawat tembaga perubahan yang dapat dilihat adalah kawat tembaga berpijar dan menjadi melengkung. Percobaan kedua ialah pemanasan unsur naftalen dengan memasukkan beberapa naftalen ke dalam gelas ukur atau piala, kemudian ditutup dengan cawan porselen yang berisi es batu dan dipanaskan menggunakan hot plate, perubahan yang terjadi pada proses ini adalah terbentuknya kristal karena proses sublimasi dari padat menjadi gas kemudian gas yang terbentuk dipadatkan sehingga terbentuk kristal pada bagian bawah cawan porselen. 

    Pada proses pemanasan senyawa, diamati perubahan es batu yang dipanaskan menggunakan hot plate, hasil yang didapat pada proses ini adalah perubahan fase dari zat padat menjadi zat cair, tidak menghasilkan perubahan warna dan tidak menghasilkan zat baru sehingga termasuk ke dalam perubahan fisika. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh petrucci, yaitu sifat fisika meliputi berbagai aspek fisik dari suatu senyawa. Beberapa sifat fisika antara lain; luster, malleabillity, kecepatan, kekentalan, volume, kelarutan, dan massa. Beberapa perubahan dalam sifat-sifat fisika ini dapat menjurus pada perubahan fisika (Petrucci, 2007).

       Pada proses percobaan reaksi larutan dapat diamati bahwa senyawa Na2SO4 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia dengan larutan tetap jernih, hal ini ditandai dengan larutan yang berubah warna menjadi pekat dan munculnya gelembung-gelembung kecil. Pada senyawa Pb(NO3)2 + KI didapatkan bahwa larutan berubah warna menjadi kuning sehingga termasuk ke dalam perubahan kimia. Pada senyawa larutan NaNO3 + KI dapat diamati bahwa larutan menjadi lebih keruh sehingga termasuk ke dalam perubahan kimia. Hal ini sesuai dengan kajian literatur yang mengemukakan bahwa Perubahan kimia merupakan perubahan zat yang menyebabkan terjadinya satu atau lebih zat yang jenisnya baru. Perubahan kimia selanjutnya disebut reaksi kimia (Agus, 2013).


BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan, antara lain:

  1. Sifat fisik dari suatu unsur logam dan non logam memiliki bentuk fisik yang berbeda. Padatan seng (Zn) merupakan unsur logam yang berbentuk serbuk, tidak berbau, dan berwarna abu-abu. Padatan belerang (S) merupakan unsur non logam yang berbentuk bubuk, berbau, dan berwarna kuning. Karbon (C) merupakan unsur non logam yang berbentuk serbuk, tidak berbau, dan berwarna hitam. Padatan magnesium (Mg) merupakan unsur logam yang berbentuk serpihan, tidak berbau, dan berwarna abu-abu tua. Padatan aluminium (Al) merupakan unsur logam yang berbentuk bulat padat, tidak berbau, dan berwarna perak.
  2. Sifat fisik senyawa adalah sifat yang dapat diamati dan diukur. Faktor-faktor yang memengaruhi sifat fisik dari suatu senyawa dapat dilihat pada perubahan bentuk, wujud, atau sifat.
  3. Sifat kimia adalah perubahan yang dialami suatu benda yang membentuk zat baru. Perubahan benda yang meliputi perubahan zat penyusun, molekul penyusun, bentuk wujud, dan bau pada benda secara permanen.
  4. Na2CO3 + HCl mengalami perubahan kimia karena ada perubahan gas yang ditandai dengan adanya gelembung di dalam tabung reaksi, Na2SO4 + HCl mengalami perubahan kimia karena ada perubahan warna sehingga menjadi lebih jernih, NaNO3 + KI mengalami perubahan kimia karena terdapat perubahan warna sehingga menjadi lebih keruh , dan Pb(NO3)2 + KI mengalami perubahan kimia karena terdapat perubahan warna sehingga menjadi warna kuning atau menghasilkan warna baru.


DAFTAR PUSTAKA

        Nurhasni, Dis, Yusraini. 2022. Pedoman Praktikum Kimia Dasar I. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta. Diakses pada tanggal 24 September 2022.

        Wibowo, Agus Mukti. 2013. Peningkatan Pemahaman Konsep Perubahan Materi Melalui Perbaikan Bahan Ajar. UIN Malang. Malang. Diakses pada tanggal 24 September 2022

        Nurcahyo, Arif R. 2018. Pengertian, Perubahan, dan Klasifikasi Materi. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya. Diakses pada tanggal 24 September 2022.

    Davies, Paul. 1992. The New Physics. Cambridge University Press. London. https;//www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Kimia_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.

        Petrucci, Raiph H. 2007. Kimia Dasar. Prinsip dan Terapan Modern. Terjemahan dari General Chemistry. Principles and Modern Applications, oleh S. Achmadi, Erlangga, Jakarta, Diakses pada tanggal 25 September 2022.

        Chang, Raymond. 2006. General Chemistry: The Essential Concepts, MA: McGrow-Hill Higher Education. Boston.                https://www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2022.

     Riswandi, M. Rizki. 2018. Laporan Praktikum Kimia Tnetang Materi dan Perubahannya. https://www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.

        Sunarya, Yayan 2010. Kimia.dasar 1. Bandung: Yrama widya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.

EVALUASI POST PRKATIKUM

1. Data Hasil Pengamatan

NO

KEGIATAN

HASIL PENGAMATAN

Mempelajari Sifat-sifat Fisika dan Kimia

1

Pengamatan sifat-sifat fisika unsur

 

 

a.       Alumunium

Logam, bentuk bulat, silver, tidak bau

 

b.      Magnesium

Logam, bentuk serpih, tidak bau, abu tua

 

c.       Seng

Logam, bentuk serbuk, tidak bau, abu-abu

 

d.      Karbon

Non logam, serbuk, tidak bau, hitam

 

e.       belerang

Non logam, bubuk, berbau, kuning

2

Titik didih

 

 

a.       metanol

Metanol memiliki ikatan lebih stabil memiliki titik didih sebesar 68 derajat celcius

3

Kelarutan

 

 

a.       air dan sukrosa

Larut, karena sukrosa dan air adalah ikatan polar dan memiliki ikatan yang kuat

 

b.      air dan naftalen

Tidak larut, karena naftalen merupakan senyawa non polar dan air adalah polar

 

c.       air dan belerang

Tidak larut dengan sempurna, karena belerang memiliki sifat non polar dan air adalah polar.

4

Pencampuran

 

 

a.       air dan metanol

Tercampur dengan baik karena gaya tarik menarik antar molekul air dan metanol adalah sama besar

 

b.      air dan heksana

Tidak dapat tercampur karena air bersifat polar dan heksana bersifat non polar

 

Mempelajari Perubahan Fisika dan Kimia

1

Pemanasan Unsur

 

 

a.       Cu 

Perubahan fisika karena tembaga yang telah dipanaskan dapat kembali ke wujud awal

 

b.      C10H8 

Perubahan fisika karena naftalen yang dipanaskan berubah menjadi uap dan terbentuk kembali kristal padatan

2

Pemanasan Senyawa

 

 

a.       H2

Perubahan senyawa karena es batu yang dipanaskan menjadi cair pada suhu 28 derajat celcius

3

Reaksi Larutan

 

 

a.       Na2CO3 + HCl

Larutan pekat dan muncul gelembung kecil

 

b.      Na2SO4 + HCl

Larutan tetap jernih

 

c.       NaNO3 + KI

Larutan menjadi lebih keruh

 

d.      Pb(NO3)2 + KI

Larutan berubah warna menjadi kuning

 

2. Jelaskan apa itu sifat fisika dan sifat kimia serta apa yang memengaruhinya!

Jawab: Sifat fisika adalah sifat yang dapat diukur dan diamati, serta diteliti tanpa mengubah komposisi atau susunan dari zat tersebut dan yang memengaruhi sifat fisika adalah wujud, warna benda, massa jenis, titik didih, dan titik leleh. Sifat kimia adalah sifat suatu materi yang dapat diketahui jika materi tersebut bereaksi dengan zat lain dan yang memengaruhi sifat kimia adalah tingkat oksidasi, daya hantar, dan sifat mudah meledak.

3. Jelaskan apa itu perubahan fisika dan perubahan kimia serta apa saja yang memengaruhinya!

Jawab: Perubahan fisika adalah bentuk perubahan pada zat suatu benda yang hanya dapat diamati bagian fisik atau wujudnya saja. Perubahan kimia adalah perubahan yang terjadi pada bentuk dan ukuran zat yang kemudian menghasilkan zat baru.

4. Bagaimana cara membedakan perubahan fisika dan perubahan kimia pada suatu zat!

Jawab: Cara membedakan perubahan fisika dan perubahan kimia pada suatu zat adalah dengan melihat apakah ada zat baru yang dihasilkan dari percobaan tersebut dan lihat dari bentuk wujud, ukuran, sifat, dan perubahan fisik lainnya.

LAMPIRAN

NO

KEGIATAN

PENJELASAN

FOTO

1

Mempelajari Sifat Fisika Unsur (Membedakan Logam dan Non Logam)

 

a.       Aluminium

Aluminium (Al) merupakan unsur logam yang berbentuk bulat padat, berwarna perak, dan tidak memiliki bau.



 

b.      Magnesium

Padatan magnesium (Mg) merupakan unsur logam yang berbentuk serpihan, berwarna abu-abu tua, dan tidak memiliki bau. 



 

c.       Seng

Seng (Zn) merupakan unsur logam yang berbentuk serbuk, berwarna abu-abu, dan tidak memiliki bau. 



 

d.      Belerang

Belerang (S) merupakan unsur non logam yang bebentuk bubuk, berwarna kuning, dan memiliki bau.



 

e.       Karbon

Karbon (C) merupakan unsur non logam yang berbentuk serbuk, berwarna hitam, dan tidak memiliki bau. 



2

Menentukan Titik Didih (Sifat Fisika Suatu Senyawa)

 

 

a.       Metanol

Dimasukkan 300 ml air ke dalam gelas piala. 



 

 

Gelas piala (gelas beaker) diletakkan di atas hot plate, kemudian gelas piala yang berisi air dididihkan, dan hotplate dimatikan kembali



Dimasukkan 2 mL dan sebutir batu didih, lalu dimasukkan ke dalam air di gelas piala



Metanol yang masih panas diukur suhunya menggunakan termometer. 



Dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampai 1 cm di atas permukaan metanol. Suhu dicatat setelah ada kondesat menetes dari ujung termometer.  



3

Kelarutan

 

a.       Tabung 1 (Naftalen)

Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan beberapa naftalen. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak 



 



b.      Tabung 2 (Kristal Sukrosa)

Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan kristal sukrosa. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak? 



 



c.       Tabung 3 (Belerang)

Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan serbuk belerang. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak? 



 



4

Pencampuran

 

a.       Metanol

Dimasukkan air 5 mL ke dalam tabung reaksi. Metil alkohol dimasukkan ke dalam tabung pertama. Lalu, dikocok dan diamati perubahannya apakah tercampur secara merata atau tidak?  




 



 

b.      Heksana

Dimasukkan air 5 mL ke dalam tabung reaksi. Heksana dimasukkan ke dalam tabung pertama. Lalu, dikocok dan diamati perubahannya apakah tercampur secara merata atau tidak? 



 



5

Pemanasan Unsur

 

a.       Kawat Tembaga

Sepotong kawat tembaga dipanaskan. Kemudian, didinginkan beberapa saat untuk diamati perubahan yang terjadi. 



 



 

b.      Pemanasan Naftalen

Beberapa naftalen dimasukkan ke dalam gelas piala. 



Kemudian, ditutup dengan cawan arloji yang di atasnya terdapat es batu dan dipanaskan menggunakan hot plate. 



 Hasil yang terjadi adalah dapat dilihat butiran naftalen mengeluarkan uap. Lalu, terdapat kristal naftalen di bawah cawan arloji.



6

Pemanasan Senyawa

 

a.       Es Batu

Es batu dimasukkan ke dalam gelas piala. 



 Lalu, es batu tersebut dipanaskan menggunakan hot plate dan terjadi perubahan fase dari padat menjadi cair.



7

Reaksi Larutan

 

a.       Na2CO3 + HCl

Larutan Na2CO3 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan memekat dan terdapat gelembung-gelembung kecil. 



 

b.      Na2SO4 + HCl

Larutan Na2SO4 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan tetap jernih. 



 

c.       NaNO3 + KI

 Larutan NaNO3(aq) + KI(aq) termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan menjadi lebih keruh.



 



 



 



 

 

 



 



 

d.      Pb(NO3)2 + KI

 



 



 



 

 

 



 



 



MATERIAL SAFETY DATA SHEETS

1.       Magnesium (Mg)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Padat

Penampilan : putih perak

Bau : tidak ada yang dilaporkan

pH : >7 (larutan air)

Titik didih : 1107,2 derajat C

Titik Pembekuan : 650 derajat C.

Kelarutan : Tidak larut dalam air.

Gravitasi : 1.74

Rumus Molekul : Mg

Berat Molekul : 24,3

Bahaya

Padatan yang mudah terbakar. Air-reaktif. Kontak dengan air melepaskan gas yang sangat mudah terbakar. Dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Menghirup asap dapat menyebabkan demam asap logam. Sensitif terhadap udara.

Penanganan

Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.

Kulit: Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.

Tertelan: Jika korban sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir susu atau air. Dapatkan bantuan medis segera.

Penghirupan: Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis.

Catatan untuk Dokter: Penggunaan kalsium glukonat sebagai pengobatan  penangkal magnesium over dosis harus ditentukan hanya oleh tenaga medis yang berkualifikasi.

2.       Aluminium (Al)

Sifat Fisika dan Kimia

Bentuk : serbuk

Warna : metalik

Titik lebur/titik beku : 660,37 °C

Titik didih awal/rentang didih : 2.460 °C

Kerapatan : (densitas) relatif

Bahaya

Toksisitas akut, Korosi/iritasi kulit, dan Kerusakan mata serius/iritasi mata

Penanganan

Jika terhirup : hirup udara segar.

Jika kontak dengan kulit :Tanggalkan segera semua pakaian yang

terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air.   

Jika kontak dengan mata : bilaslah dengan air yang banyak. Lepaskan lensa kontak.

Jika tertelan : beri air minum kepada korban (paling banyak dua gelas). Konsultasi kepada dokter jika merasa tidak sehat.

 

3.       Kawat tembaga (Cu)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Bubuk

Penampilan : merah sampai coklat

Bau : tidak ada yang dilaporkan

pH : Tidak tersedia.

Titik didih : 2595 deg C

Titik Beku/Leleh : 1083 deg C

Kelarutan : Tidak larut dalam air.

Berat Jenis : 8,92

Berat Molekul : 63,54

Bahaya

Mata: Menyebabkan iritasi mata. Kulit: Menyebabkan iritasi kulit. Dapat menyebabkan perubahan warna kulit. Tertelan: Menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan mual, muntah dan diare. Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Inhalasi: Debu mengiritasi saluran pernapasan. Menghirup asap dapat menyebabkan demam asap logam, yang ditandai dengan gejala seperti flu dengan rasa logam, demam, menggigil, batuk, lemas, nyeri dada, nyeri otot, dan peningkatan jumlah sel darah putih. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Dapat menyebabkan kerusakan paru-paru.

Penanganan

Mata: Bilas mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali mengangkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.

Kulit: Bilas kulit dengan banyak air setidaknya selama 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang atau berlanjut.

 

4.       Asam nitrat (HNO3)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Cair

Penampilan : bening hingga kuning

Bau : bau menyengat - bau tajam - bau menyesakkan

Densitas Uap : 2,17 (udara=1)

Titik didih : 86 deg C

Titik beku/lebur : -42 deg C

Kelarutan : Larut dalam air.

Berat Jenis : 1,4

Berat Molekul : 63,01

Bahaya

Mata: Menyebabkan luka bakar mata yang parah. Kontak langsung dengan cairan dapat menyebabkan kebutaan atau kerusakan mata permanen. Kulit: Menyebabkan kulit terbakar. Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus. Asam nitrat pekat mewarnai kulit manusia dengan warna kuning saat kontak. Proses menelan: Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi saluran pencernaan. Dapat menyebabkan efek sistemik. Penghirupan: Efek mungkin tertunda. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Inhalasi bisa berakibat fatal sebagai akibat dari kejang, peradangan, edema laring dan bronkus, pneumonitis kimia dan edema paru. Aspirasi dapat menyebabkan edema paru. Dapat menyebabkan efek sistemik. Dapat menyebabkan edema paru akut, asfiksia, pneumonitis kimia, dan obstruksi jalan napas bagian atas yang disebabkan oleh edema. Tergantung pada kondisinya, uap atau asap asam nitrat sebenarnya dapat berupa campuran asam nitrat dan berbagai oksida nitrogen. Komposisi dapat bervariasi dengan suhu, kelembaban, dan kontak dengan bahan organik lainnya. Kronis: Paparan uap asam nitrat konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pneumonitis dan edema paru yang dapat berakibat fatal. Gejala mungkin atau mungkin tidak tertunda. Paparan terus menerus terhadap uap & kabut asam nitrat dapat menyebabkan bronkitis kronis, & paparan yang lebih parah menyebabkan pneumonitis kimia. Uap & kabut asam nitrat dapat mengikis gigi, terutama mempengaruhi gigi taring & gigi seri.

Penanganan

Mata: Dapatkan bantuan medis segera. JANGAN biarkan korban menggosok mata atau menutup mata. Diperlukan irigasi ekstensif dengan air (setidaknya 30 menit).

Kulit: Dapatkan bantuan medis segera. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Hancurkan sepatu yang terkontaminasi.

Tertelan: Jangan memaksakan muntah. Jika korban sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir susu atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Dapatkan bantuan medis segera.

Inhalasi: Dapatkan bantuan medis segera. Hapus dari paparan dan pindahkan ke udara segar segera. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. JANGAN gunakan resusitasi mulut ke mulut. Jika pernapasan telah berhenti, lakukan pernapasan buatan menggunakan oksigen dan alat mekanis yang sesuai seperti tas dan masker.

 

5.       Perak nitrat (AgNO3)

Sifat Fika dan Kimia

Keadaan Fisik : Padat

Penampilan : putih

Bau : tidak berbau

pH : ~ 6

Titik didih : 433 derajat C

Titik Pembekuan/Leleh: 212 derajat C

Suhu Dekomposisi : 440 derajat C

Kelarutan : Larut.

Gravitasi / Kepadatan Spesifik: 4,35

Berat Molekul : 169,87

Bahaya

Mata: Menyebabkan luka bakar pada mata. Kulit: Menyebabkan kulit terbakar. Mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit. Tertelan: Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika tertelan. Menelan garam perak terlarut dapat menyebabkan argyria, ditandai dengan pigmentasi biru-abu-abu permanen pada kulit, selaput lendir, dan mata. Dosis mematikan bagi manusia adalah 2 gram atau sekitar 28,6 mg/kg. Penghirupan: Menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan kemungkinan koma. Kronis: Dapat menyebabkan methemoglobinemia. Menghirup atau menelan garam perak secara kronis dapat menyebabkan argyria

Penanganan

Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.

Kulit: Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.

Tertelan: Dapatkan bantuan medis segera. JANGAN menginduksi muntah. Jika sadar dan waspada, bilas mulut dan minum 2-4 cangkir susu atau air.

Penghirupan: Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis. Jangan gunakan resusitasi mulut ke mulut jika korban menelan atau menghirup zat tersebut; menginduksi pernapasan buatan dengan bantuan masker saku yang dilengkapi dengan katup satu arah atau perangkat medis pernapasan lain yang sesuai.

Catatan untuk Dokter: Rawat sesuai gejala dan suportif.

 

6.       Kalsium karbonat (CaCO3)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Padat

Penampilan : putih

Bau : tidak berbau

pH : 8-9 (larutan)

Titik Pembekuan /Leleh: 825 derajat C

Suhu Dekomposisi : 825 derajat C

Kelarutan : Sedikit larut dalam air.

Kepadatan : 2.7-2.9

Berat Molekul : 100.09

Bahaya

Mata : Menyebabkan iritasi mata. Kulit: Dapat menyebabkan iritasi kulit. Tertelan: Tertelan dalam jumlah besar dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal. Diharapkan menjadi bahaya konsumsi yang rendah. Penghirupan: Bahaya rendah untuk penanganan industri biasa. Inhalasi yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi pernapasan ringan.

Penanganan

Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.

Kulit: Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang atau berlanjut.

Tertelan: Dapatkan bantuan medis. JANGAN menginduksi muntah. Jika sadar dan waspada, bilas mulut dan minum 2-4 cangkir susu atau air.

Penghirupan: Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis jika batuk atau gejala lain muncul.

 

7.       Asam sulfat (H2SO4)

Sifat Fisika dan Kimia

Berat Molekul : 98,07

Keadaan Fisik : Cair

 Penampilan : berminyak - bening tidak berwarna hingga kuning

Bau : tidak berbau

 pH : 0,3 (larutan 1N)

 Tingkat Penguapan : Lebih lambat dari eter.

 Titik didih : 290 - 338 derajat C

 Titik Pembekuan/Leleh:10 derajat C

 Suhu Dekomposisi : 340 derajat C

 Kelarutan : Larut dengan banyak panas

Bahaya

Mata: Menyebabkan luka bakar mata yang parah. Dapat menyebabkan cedera mata ireversibel. Dapat menyebabkan kebutaan. Kulit: Menyebabkan kulit terbakar. Tingkat keparahan cedera tergantung pada konsentrasi larutan dan durasi paparan. Tertelan: Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Terhirup: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dengan rasa sakit terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, sesak napas dan edema paru. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Inhalasi yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan mimisan, hidung tersumbat, nyeri dada dan bronkitis. Kontak mata yang lama atau berulang dapat menyebabkan konjungtivitis. Efek mungkin tertunda. Pekerja yang terpapar kabut asam sulfat secara kronis dapat menunjukkan berbagai lesi pada kulit, trakeobronkitis, stomatitis, konjungtivitis, atau gastritis. Paparan di tempat kerja terhadap kabut asam anorganik kuat yang mengandung asam sulfat bersifat karsinogenik bagi manusia.

Penanganan

Mata: Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit. Dapatkan bantuan medis segera.

Kulit: Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.

Tertelan: Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri.

Terhirup: bahan RACUN. Jika terhirup, segera dapatkan bantuan medis. Pindahkan korban ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen.

 

8.       Asam klorida (HCl)

Sifat Fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Cair

Penampilan : jernih, tidak berwarna hingga kuning pucat

Bau : kuat, menyengat

pH : 0,01

Densitas Uap : 1,27 (udara=1)

Laju Penguapan : > 1,00 (N-butil asetat)

Titik Beku/ Leleh : -66 derajat C

Kelarutan : Larut.

Berat Jenis : 1,19 (38%)

Berat Molekul : 36,46

Bahaya

Mata: Dapat menyebabkan cedera mata ireversibel. Uap atau kabut dapat menyebabkan iritasi dan luka bakar yang parah. Kontak dengan cairan bersifat korosif pada mata dan menyebabkan luka bakar yang parah. Kulit: Kontak dengan cairan bersifat korosif dan menyebabkan luka bakar dan ulserasi yang parah. Tingkat keparahan cedera tergantung pada konsentrasi larutan dan durasi paparan. Proses menelan: Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan yang parah dengan sakit perut, muntah, dan kemungkinan kematian. Dapat menyebabkan korosi dan kerusakan jaringan permanen pada kerongkongan dan saluran pencernaan. Terhirup: Dapat berakibat fatal jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan dengan sakit tenggorokan, batuk, sesak napas dan edema paru yang tertunda. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Menyebabkan tindakan korosif pada selaput lendir. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Paparan berulang dapat menyebabkan erosi gigi. Paparan berulang terhadap uap atau kabut HCl konsentrasi rendah dapat menyebabkan pendarahan pada hidung dan gusi. Bronkitis kronis dan gastritis juga telah dilaporkan.

Penanganan

Mata: Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air setidaknya selama 15 menit. Dapatkan bantuan medis segera.

Kulit: Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.

Tertelan: Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri.

Terhirup: bahan RACUN. Jika terhirup, segera dapatkan bantuan medis. Pindahkan korban ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen.

 

9.       Tembaga (II) sulfat (CuSO4)

Sifat Kimia dan Fisika

Nama Produk : Tembaga(II) Sulfat Pentahidrat

Berat Molekul : 249.6 g/mol

Bentuk : padat

Warna : biru

Bau : Tak berbau

pH : 3,5 - 4,5 pada 50 g/l 20 °C

Titik lebur : 147 °C

Densitas : 2,284 g/cm3 pada 20 °C

Kelarutan : dalam air 317 g/l pada 20 °C

Bahaya

Berbahaya jika tertelan. Menyebabkan kerusakan mata yang serius. Sangat toksik pada kehidupan perairan dengan efek jangka panjang.

Penanganan

Saran umum Pemberi pertolongan pertama harus melindungi dirinya. Setelah terhirup : hirup udara segar. Jika napas terhenti: berikan napas buatan mulut ke mulut atau secara mekanik. Berikan masker oksigen jika mungkin. Segera hubungi dokter. Bila terjadi kontak kulit : bilaslah dengan air yang banyak. Hubungi dokter mata. Setelah kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Segera hubungi dokter mata. Lepaskan lensa kontak. Setelah tertelan: segera beri korban minum air putih (dua gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.

 

10.   Besi (III) klorida (FeCl3)

Sifat Fisika dan Kimia

Bentuk : Serbuk

Warna : Hijau sampai hitam

Bau : Pedih

pH : 1 pada 200 g/l 20 °C

Titik lebur : 306 °C (penguraian)

Bahaya

dapat menyebabkan korosif pada logam, menyebabkan iritasi pada kulit, dan dapat menyebabkan iritasi pada mata yang serius.

Penanganan

Setelah menghirup: hirup udara segar.

Bila terjadi kontak kulit: Tanggalkan segera semua pakaian yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air. Periksakan ke dokter.

Setelah kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Segera hubungi dokter mata. Lepaskan lensa kontak.

Setelah tertelan: segera beri korban minum air putih (dua gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.

 

11.   Etanol (C2H5OH)

Sifat Fisika dan Kimia

Massa molar : 46.069 g/mol

Penampilan : Cairan tidak berwarna

Densitas : 0.8 g/cm3

Titik didih : 78.5oC

Titik leleh : -114.1oC

Titik nyala : 12.8oC (55oF)

pH : 7 pada 10 g/l pada 20oC

Kelarutan : 1000.0 mg/mL dalam air

Viskositas : 1.074 mPa.s pada 25oC

Bahaya

Flammable, irritant

Penanganan

Terkena mata : bilas dengan air yang banyak. Hubungi dokter mata. Lepas lensa kontak.

Terkena kulit : Tanggalkan segera semua pakaian yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air.

Terhirup : segera hirup udara segar. Tertelan : segera beri korban minum air putih (dua gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.

 

12.   Natrium karbonat (Na2CO3)

Sifat fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Bubuk

Penampilan : putih

Bau : tidak berbau

pH : Tidak tersedia.

Titik didih : 1600 derajat C pada 760 mmHg

Titik Leleh : 851 derajat C

Kelarutan : 22 g/100mL (20 °C)

Gravitasi / Kepadatan Spesifik : 2.53

Berat Molekul : 105,99

Bahaya

Mata: Menyebabkan iritasi mata. Lachrymator (zat yang meningkatkan aliran air mata).

Kulit: Menyebabkan iritasi kulit. Mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit.

Tertelan: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika tertelan.

Terhirup: Berbahaya jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan.

Kronis: Efek reproduksi yang merugikan telah dilaporkan pada hewan.

Penanganan

Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.

Kulit: Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.

Tertelan: Jangan memaksakan muntah. Dapatkan bantuan medis.

 

13.   Natrium klorida (NaCl)

Sifat Fisika dan Kimia

 Berat Molekul : 58,44

 Keadaan Fisik : Padat

 Penampilan : putih

 Bau : tidak berbau

 Titik beku/lebur :801°C

 Kelarutan : 360 g/L (20 °C)

 Gravitasi : 2.165

Bahaya

Mata: Dapat menyebabkan iritasi mata. Paparan padatan dapat menyebabkan rasa sakit dan kemerahan.

Kulit: Dapat menyebabkan iritasi kulit. Mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit.

Tertelan: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika tertelan. Tertelan dalam jumlah besar dapat menyebabkan mual dan muntah, kekakuan atau kejang-kejang. Paparan terus menerus dapat menghasilkan koma, dehidrasi, dan organ dalam

Terhirup: Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Mungkin berbahaya jika terhirup.

Kronis: Tidak ada informasi yang ditemukan

 

14.   Amonia (NH3)

Sifat Fisika dan Kimia

Wujud : Gas

Warna : Tidak berwarna

Bau : Menyengat

Titik didih : -33,4 °C

Suhu Penyalaan : 651 °C

Bahaya

Mengiritasi atau korosif pada jaringan yang terbuka, Menyebabkan radang paru-paru jika terhirup, Kebutaan, dan Luka bakar pada kulit

Penanganan

Jika kontak mata : bilaslah dengan air mengalir selama 15 menit. Segera hubungi dokter. Setelah kontak dengan kulit : segera bilas dengan air yang banyak. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi.

Setelah terhirup : segera hirup udara segar. Segera hubungi dokter. Setelah tertelan : beri korban minum yang banyak. Segera hubungi dokter.

 

15.   Natrium hidroksida (NaOH)

Sifat fisika dan Kimia

Keadaan Fisik : Padat

Penampilan : putih

Bau : Tidak berbau

Tekanan Uap : 1 mm Hg pada739 derajat C

Titik didih : 1390 derajat C pada 760 mmHg

Titik Pembekuan/Leleh : 318 derajat C.

Kelarutan : Larut.

Gravitasi/Kepadatan Spesifik : 2,13 g/cm3

Berat Molekul : 40

Bahaya

Menyebabkan luka bakar pada mata dan kulit. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan dan pernafasan. Higroskopis (menyerap kelembaban dari udara).Mata : Menyebabkan luka bakar pada mata. Dapat menyebabkan kebutaan. Dapat menyebabkan konjungtivitis kimia dan kerusakan kornea. Kulit : Menyebabkan kulit terbakar. Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus. Tertelan : Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi saluran pencernaan. Menyebabkan sakit parah, mual, muntah, diare, dan syok. Inhalasi : Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan kemungkinan koma. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Kronis : Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Efek mungkin tertunda

Pertolongan Pertama

Mata : Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit. Dapatkan bantuan medis segera.

Kulit : Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.

Tertelan : Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri.

Terhirup : Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I - PENGENALAN ALAT LABORATORIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II - PEMBUATAN LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I - KESETIMBANGAN KIMIA