LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR III - MATERI DAN PERUBAHANNYA
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1
MATERI DAN PERUBAHANNYA
PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Prinsip Percobaan
Materi merupakan segala sesuatu yang memiliki massa dan dapat menempati suatu ruang. Materi mempunyai dua sifat, yaitu sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifat intensif adalah sifat khas dari suatu materi yang tidak dapat bergantung dar posisi, bentuk, dan panjang. Sifat ekstensif merupakan bukan sifat khas dari materi itu sendiri. Prinsip kerja pada percobaan "materi dan perubahannya" akan dilakukan beberapa percobaan yang memberikan suatu hasil pengamatan mengenai sifat-sifat fisika dan kimia dan perubahan-perubahan fisika dan kimia dari suatu unsur dan senyawa.
1.2 Tujuan Percobaan
- Mahasiswa mampu membedakan sifat fisik dari suatu unsur (logam dan non logam).
- Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan sifat fisik senyawa dan faktor-faktor yang memengaruhi sifat fisik senyawa.
- Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan sifat kimia dan faktor-faktor yang memengaruhinya dari suatu unsur dan senyawa.
- Mahasiswa mampu menentukan apakah suatu zat mengalami perubahan fisika atau perubahan kimia dan menjelaskan ciri-ciri dari kedua perubahan tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Materi adalah setiap objek atau bahan yang membutuhkan ruang dengan jumlah yang diukur oleh suatu sifat yang disebut massa. Secara umum, materi juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa dan menempati suatu volume atau ruang. Materi tersusun atas molekul-molekul dan molekul pun tersusun atas atom-atom. Materi pada umumnya dapat ditemukan dalam empat fasa yang berbeda, yaitu padat, cair, gas, dan plasma (wujud zat). Namun, terdapat pula fasa materi yang lain, seperti kondensat Base-Einstein (Davies, 1992).
Salah satu cara yang digunakan dalam menggolongkan materi adalah dengan berdasarkan sifat-sifat fisika atau kimianya. Sifat-sifat fisika dan kimia dapat dibagi atas dua golongan; serbasama (homogen) dan serbaneka (heterogen). Materi yang serbasama (homogen) mempunyai sifat fisika dan sifat kimia yang sama dan tetap tanpa melihat banyak zat yang diukur. Materi serbaneka (heterogen) tidak mempunyai sifat-sifat yang tetap. Bila gula dan garam dicampur dapat terlihat sama, tetapi campuran tersebut sebenarnya berupa larutan serbaneka (heterogen) karena pada masing-masing larutan tersebut mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda.
Sifat fisika meliputi berbagai aspek fisik dari suatu senyawa. Beberapa sifat fisika antara lain; luster, malleability, kerapatan, kekentalan, volume, kelarutan, dan massa. Beberapa perubahan alam dari sifat-sifat fisika ini dapat menjurus pada perubahan fisika (Petrucci, 2007).
Sifat-sifat kimia adalah sifat yang diukur atau diamati bila zat mengalami perubahan komposisi, di mana harus berlangsung reaksi kimia. Besi berkarat, kayu terbakar, hidrogen meledak, dan uranium meluruh secara radioaktif merupakan beberapa contoh dari sifat kimia. Perubahan kimia dapat diamati seperti pembentukan gas, pembentukan senyawa sulit larut, perubahan warna, terbentuk endapan, dan perubahan suhu.
Perubahan fisika adalah perubahan yang memengaruhi bentuk zat kimia, namun tidak memengaruhi komposisi kimianya. Perubahan fisika dapat digunakan untuk memisahkan campuran menjai senyawa komponen mereka, tetapi tidak dapat digunakan untuk campuran yang telah bereaksi menjadi senyawa kimia yang berbeda dengan senyawa asalnya. Perubahan fisika terjadi ketika benda atau zat mengalami perubahan yang tidak berubah komposisi kimianya. Ini berbeda dengan konsep perubahan kimia di mana komposisi dan perubahan zat atau satu atau lebih zat menggabungkan atau memisahkan untuk membentuk zat baru. Secara umum, hasil perubahan fisika dapat dikembalikan ke dalam bentuk semula dengan menggunakan sarana fisik. Misalnya, garam yang terlarut di dalam air dapat dipulihkan dengan membiarkan air menguap dengan perantara panas (Zumdahi, 2000).
Perubahan kimia terjadi ketika suatu zat bereaksi dengan lain unsur membentuk suatu zat baru yang disebut sintesis atau sebaliknya terurai menjadi dua atau lebih zat yang berbeda dan proses ini disebut sebagai reaksi kimia. Secara umum, reaksi kimia tidak bersifat reversible kecuali dengan reaksi kimia yang terjadi, yang disebut dengan reaksi endotermik. Memahami perubahan kimia adalah bagian utama dari ilmu kimia. Letak perbedaan antara reaksi fisika dan reaksi kimia adalah pada komposisi zatnya sebelum an sesudah reaksi. Dalam reaksi kimia, terapat banyak perubahan komposisi dari sebelum reaksi, sedangkan di dalam perubahan fisika terdapat banyak perbedaan alam hal bentuk, bau, tekstur, an sebagainya dari zat yang dimaksud tanpa ada perubahan komposisi zat yang terlibat (Chang, 2006).
Perubahan kimia yang disertai pengeluaran energi disebut energi eksoterm, energi yang dikeluarkan dapat berubah energi panas listrik, cahaya dan lain-lain.sedangkan perubahan kimia yang disertai penyerapan energi disebut reaksi endoterm. Pada perubahan kimia dihasilkan satu atau lebih materi yang berbeda dari sebelumnya. Suatu perubahan kimia materi yang menghasilkan jenis dan sifat materi berbeda dari zat semula dinamakan perubahan kimia, (perubahan kimia dinamakan juga reaksi kimia). Misalnya pembakaran kayu, jika kayu dibakar akan menghasilkan arang kayu. Jika dibandingkan antara kayu dan arang kayu, keduanya memiliki jenis dan sifat yang berbeda. Karena itu pembakaran kayu bukan perubahan fisika, tetapi tergolong kimia. Dalam perubahan kimia dihasilkan jenis materi yang berbeda dengan materi semula sehingga terdapat dua istilah yang digunakan dalam reaksi kimia yaitu zat semula dinakan reaktan atau pereaksi, sedangkan zat yang terbentuk hasil reaksi. Pada pembakaran kayu dinamakan hasil reaksi. Dalam kehidupan sehari-hari banyak reaksi kimia yang terjadi seperti pada pembakaran minyak bumi, perkaratan besi, dan lainnya. Semua itu menghasilkan zat yang sifat dan jenisnya baru (Sunarya, 2010:11).
Ketika terjadi reaksi kimia, atom-atom disusun kembali dan reaksi disertai dengan perubahan energi sebagai produk yang baru dihasilkan. Contoh perubahan kimia adalah reaksi kimia adalah reaksi antara natrium dan air untuk menghasilkan natrium hidroksida dan hidrogen. Ini adalah contoh dari perubahan kimia karena produk akhir secara kimiawi berbeda dari zat-zat sebelum reaksi (Chang, 2006).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam proses percobaan mengamati sifat-sifat fisika dan kimia suatu unsur dan senyawa, antara lain; gelas piala sebanyak 1 buah, gelas piala 250 mL sebanyak 1 buah, termometer sebanyak 1 buah, tabung reaksi diameter 2 cm sebanyak 1 buah, cawan penguap sebanyak 1 buah, rak tabung reaksi sebanyak 3 buah, tabung reaksi sebanyak 12 buah, batu didih sebanyak 1 buah, hotplate sebanyak 1 buah, bunsen sebanyak 1 buah, penjepit tabung reaksi sebanyak 1 buah, pipet tetes sebanyak 10 buah, dan gelas piala 100 mL sebanyak 1 buah.
3.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan mengamati sifat-sifat fisika dan kimia suatu unsur dan senyawa, antara lain; botol-botol kecil berisi serbuk aluminium (Al), magnesium (Mg), belerang (S), karbon (C) dan seng (Zn), metil alkohol (CH3OH), iod, sukrosa (C12H22O11), serbuk belerang, kawat tembaga (Cu), padatan kalium dikromat, larutan natrium karbonat, larutan natrium sulfat, larutan timbal (II) nitrat, larutan kalium iodida, metanol, heksana, dan aquades.
3.3 Prosedur Percobaan
a. Pengamatan Sifat-sifat Fisik Unsur
Botol-botol kecil yang berisi unsur-unsur diamati sebagai berikut :
1. Aluminium (Al)
2. Magnesium (Mg)
3. Karbon (C)
4. Belerang (C)
5. Seng (Zn)
b. Kelarutan
c. Pencampurand. Reaksi larutane. Pemanasan unsur
f. Pemanasan Senyawa
g. Titik Didih
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
|
NO |
KEGIATAN |
HASIL
PENGAMATAN |
||||
|
|
Mempelajari
Sifat-sifat Fisika dan Kimia |
|||||
|
1 |
Pengamatan
Sifat-sifat Fisika Unsur |
Logam |
Non
logam |
Warna |
Bentuk |
|
|
|
a. Aluminium |
✔ |
|
Silver |
Padatan |
|
|
|
b. Magnesium |
✔ |
|
Abu-abu
mengkilap |
Serbuk Kasar |
|
|
|
c. Seng |
✔ |
|
Abu-abu
gelap |
Serbuk Halus |
|
|
|
d. Karbon |
|
✔ |
Hitam
|
Serbuk Halus |
|
|
|
e. Belerang
|
|
✔ |
Kuning
|
Serbuk Halus |
|
|
2 |
Titik
Didih |
Suhu |
||||
|
|
a. Metanol |
68 |
||||
|
3 |
Kelarutan |
Larut |
Tidak larut |
|||
|
|
a. Air
dan sukrosa |
✔ |
|
|||
|
|
b. Air
dan naftalen |
|
✔ |
|||
|
|
c. Air
dan belerang |
|
✔ |
|||
|
4 |
Pencampuran |
Homogen |
Heterogen |
|||
|
|
a. Air
dan metanol |
✔ |
|
|||
|
|
b. Air
dan heksana |
|
✔ |
|||
|
|
Mempelajari
Perubahan Fisika dan Kimia |
|||||
|
5 |
Perubahan
Unsur |
Perubahan |
||||
|
|
a. Cu (s) |
Fisika |
||||
|
|
b. Naftalen |
Fisika |
||||
|
6 |
Pemanasan
Senyawa |
Perubahan |
||||
|
|
a. H2O
(s) |
Fisika |
||||
|
7 |
Larutan |
Perubahan |
||||
|
|
a. Na2CO3
+ HCl |
Kimia |
||||
|
|
b. Na2SO4
+ HCl |
Kimia |
||||
|
|
c. NaNO3 + KI |
Kimia |
||||
|
|
d. Pb(NO3)2
+ KI |
Kimia |
||||
4.2 Pembahasan
Pada pengamatan sifat-sifat fisika dan kimia, pada unsur logam dan non logam dihasilkan pengamatan perubahan fisika berupa bentuk, warna, dan bau. Aluminium (Al) memiliki karakteristik berwarna silver, berbentuk bulat padat dan besar, dan mempunyai salah satu sifat logam, yaitu berwarna silver mengkilap. Magnesium (Mg) berwarna abu-abu mengkilap, berbentuk padatan seperti kerikil, dan tidak berbau. Seng (Zn) berbentuk padatan serbuk, berwarna abu-abu gelap seperti logam. Unsur karbon (C) memiliki sifat unsur berwarna hitam dan berbentuk serbuk halus, tidak berbau, dan unsur karbon merupakan unsur non logam. Sifat yang terdapat pada unsur belerang adalah berwarna kuning, memiliki bau, berbentuk serbuk halus, dan termasuk ke dalam unsur non logam.
Pada percobaan menentukan titik didih senyawa, didapatkan data ilmiah bahwa senyawa metanol mendidih pada suhu 68˚C, hal ini tidak sesuai dengan kajian literatur yang mengatakan bahwa Metanol yang dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol mempunyai berat molekul 32,043 g/mol dan berwujud cair pada suhu lingkungan dan tekanan atmosferis. Titik didih metanol sebesar 64,7˚C dan mempunyai titik lebur sebesar -98,68˚C. Metanol mempunyai sifat mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (Spencer, 1998). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi dari metanol yang tinggi sehingga titik didih dari metanol berubah menjadi 68˚C, sesuai dengan kajian literatur yaitu Semakin banyak jenis zat terlarut yang dicampurkan maka semakin tinggi pula titik didih larutannya (Laili, Trapsilo, Bambang, 2017). Metanol memiliki ikatan yang lebih stabil dan pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, yaitu titik didih senyawa.
Pada proses percobaan menentukan kelarutan unsur dan senyawa, bahan-bahan yang diamati oleh kami ada 3 bahan, yaitu sukrosa, naftalen, dan belerang yang dicampurkan dengan aquades pada masing-masing tabung reaksi. Pada proses kelarutan air dan sukrosa dapat dilihat bahwa sukrosa larut di dalam air dan tidak ditemukannya endapat di dalam tabung reaksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kepolaran dari sukrosa dengan aquades bernilai sama sehingga sukrosa yang berada di dalam air dapat larut sempurna. Pada proses kelarutan air dengan naftalen dan air dengan belerang dapat diamati bahwa naftalen dan belerang tidak larut di dalam air dan ditemukan endapan yang berada di dalam tabung reaksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kepolaran antara naftalen dan belerang dengan air. Diketahui bahwa belerang dan naftalen bersifat non polar sedangkan air bersifat polar, sehingga jika dilarutkan maka naftalen dan belerang tidak akan larut di dalam air dan akan terbentuk endapan. Hal ini sesuai dengan kajian literatur bahwa menurut prinsip like dissolves like, suatu pelarut akan cenderung melarutkan senyawa yang mempunyai tingkat kepolaran yang sama. Pelarut polar akan melarutkan senyawa polar dan sebaliknya (Suryani et al., 2015).
Pada percobaan pencampuran senyawa diperoleh bahwa metanol dengan air tercampur secara homogen, hal ini disebabkan oleh gaya tarik menarik antara air dan metanol sama besar dan diketahui bahwa metanol bersifat polar. Pada percobaan ini diketahui bahwa ikatan hidrogen terbentuk sehingga mudah antara metanol dengan air bercampur menjadi homogen. Pada percobaan antara air dengan heksana, yang di mana senyawa heksana berada diatas permukaan air, hal ini disebabkan munculnya dua fase. Air merupakan senyawa polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non polar.
Pada proses percobaan pemanasan unsur, yaitu pembakaran sepotong kawat tembaga dan naftalen. Pada proses pemanasan sepotong kawat tembaga perubahan yang dapat dilihat adalah kawat tembaga berpijar dan menjadi melengkung. Percobaan kedua ialah pemanasan unsur naftalen dengan memasukkan beberapa naftalen ke dalam gelas ukur atau piala, kemudian ditutup dengan cawan porselen yang berisi es batu dan dipanaskan menggunakan hot plate, perubahan yang terjadi pada proses ini adalah terbentuknya kristal karena proses sublimasi dari padat menjadi gas kemudian gas yang terbentuk dipadatkan sehingga terbentuk kristal pada bagian bawah cawan porselen.
Pada proses pemanasan senyawa, diamati perubahan es batu yang dipanaskan menggunakan hot plate, hasil yang didapat pada proses ini adalah perubahan fase dari zat padat menjadi zat cair, tidak menghasilkan perubahan warna dan tidak menghasilkan zat baru sehingga termasuk ke dalam perubahan fisika. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh petrucci, yaitu sifat fisika meliputi berbagai aspek fisik dari suatu senyawa. Beberapa sifat fisika antara lain; luster, malleabillity, kecepatan, kekentalan, volume, kelarutan, dan massa. Beberapa perubahan dalam sifat-sifat fisika ini dapat menjurus pada perubahan fisika (Petrucci, 2007).
Pada proses percobaan reaksi larutan dapat diamati bahwa senyawa Na2SO4 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia dengan larutan tetap jernih, hal ini ditandai dengan larutan yang berubah warna menjadi pekat dan munculnya gelembung-gelembung kecil. Pada senyawa Pb(NO3)2 + KI didapatkan bahwa larutan berubah warna menjadi kuning sehingga termasuk ke dalam perubahan kimia. Pada senyawa larutan NaNO3 + KI dapat diamati bahwa larutan menjadi lebih keruh sehingga termasuk ke dalam perubahan kimia. Hal ini sesuai dengan kajian literatur yang mengemukakan bahwa Perubahan kimia merupakan perubahan zat yang menyebabkan terjadinya satu atau lebih zat yang jenisnya baru. Perubahan kimia selanjutnya disebut reaksi kimia (Agus, 2013).
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan, antara lain:
- Sifat fisik dari suatu unsur logam dan non logam memiliki bentuk fisik yang berbeda. Padatan seng (Zn) merupakan unsur logam yang berbentuk serbuk, tidak berbau, dan berwarna abu-abu. Padatan belerang (S) merupakan unsur non logam yang berbentuk bubuk, berbau, dan berwarna kuning. Karbon (C) merupakan unsur non logam yang berbentuk serbuk, tidak berbau, dan berwarna hitam. Padatan magnesium (Mg) merupakan unsur logam yang berbentuk serpihan, tidak berbau, dan berwarna abu-abu tua. Padatan aluminium (Al) merupakan unsur logam yang berbentuk bulat padat, tidak berbau, dan berwarna perak.
- Sifat fisik senyawa adalah sifat yang dapat diamati dan diukur. Faktor-faktor yang memengaruhi sifat fisik dari suatu senyawa dapat dilihat pada perubahan bentuk, wujud, atau sifat.
- Sifat kimia adalah perubahan yang dialami suatu benda yang membentuk zat baru. Perubahan benda yang meliputi perubahan zat penyusun, molekul penyusun, bentuk wujud, dan bau pada benda secara permanen.
- Na2CO3 + HCl mengalami perubahan kimia karena ada perubahan gas yang ditandai dengan adanya gelembung di dalam tabung reaksi, Na2SO4 + HCl mengalami perubahan kimia karena ada perubahan warna sehingga menjadi lebih jernih, NaNO3 + KI mengalami perubahan kimia karena terdapat perubahan warna sehingga menjadi lebih keruh , dan Pb(NO3)2 + KI mengalami perubahan kimia karena terdapat perubahan warna sehingga menjadi warna kuning atau menghasilkan warna baru.
DAFTAR PUSTAKA
Nurhasni, Dis, Yusraini. 2022. Pedoman Praktikum Kimia Dasar I. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta. Diakses pada tanggal 24 September 2022.
Wibowo, Agus Mukti. 2013. Peningkatan Pemahaman Konsep Perubahan Materi Melalui Perbaikan Bahan Ajar. UIN Malang. Malang. Diakses pada tanggal 24 September 2022
Nurcahyo, Arif R. 2018. Pengertian, Perubahan, dan Klasifikasi Materi. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya. Diakses pada tanggal 24 September 2022.
Davies, Paul. 1992. The New Physics. Cambridge University Press. London. https;//www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Kimia_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.
Petrucci, Raiph H. 2007. Kimia Dasar. Prinsip dan Terapan Modern. Terjemahan dari General Chemistry. Principles and Modern Applications, oleh S. Achmadi, Erlangga, Jakarta, Diakses pada tanggal 25 September 2022.
Chang, Raymond. 2006. General Chemistry: The Essential Concepts, MA: McGrow-Hill Higher Education. Boston. https://www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2022.
Riswandi, M. Rizki. 2018. Laporan Praktikum Kimia Tnetang Materi dan Perubahannya. https://www.academia.edu/39723125/Laporan_Praktikum_Tentang_Materi_dan_Perubahannya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.
Sunarya, Yayan 2010. Kimia.dasar 1. Bandung: Yrama widya. Diakses pada tanggal 25 September 2022.
EVALUASI POST PRKATIKUM
|
NO |
KEGIATAN |
HASIL
PENGAMATAN |
|
Mempelajari
Sifat-sifat Fisika dan Kimia |
||
|
1 |
Pengamatan
sifat-sifat fisika unsur |
|
|
|
a. Alumunium |
Logam,
bentuk bulat, silver, tidak bau |
|
|
b. Magnesium |
Logam,
bentuk serpih, tidak bau, abu tua |
|
|
c. Seng |
Logam,
bentuk serbuk, tidak bau, abu-abu |
|
|
d. Karbon |
Non
logam, serbuk, tidak bau, hitam |
|
|
e. belerang |
Non
logam, bubuk, berbau, kuning |
|
2 |
Titik
didih |
|
|
|
a. metanol |
Metanol
memiliki ikatan lebih stabil memiliki titik didih sebesar 68 derajat celcius |
|
3 |
Kelarutan |
|
|
|
a. air dan sukrosa |
Larut,
karena sukrosa dan air adalah ikatan polar dan memiliki ikatan yang kuat |
|
|
b. air dan naftalen |
Tidak
larut, karena naftalen merupakan senyawa non polar dan air adalah polar |
|
|
c. air dan belerang |
Tidak
larut dengan sempurna, karena belerang memiliki sifat non polar dan air
adalah polar. |
|
4 |
Pencampuran |
|
|
|
a. air dan metanol |
Tercampur
dengan baik karena gaya tarik menarik antar molekul air dan metanol adalah
sama besar |
|
|
b. air dan heksana |
Tidak
dapat tercampur karena air bersifat polar dan heksana bersifat non polar |
|
|
Mempelajari
Perubahan Fisika dan Kimia |
|
|
1 |
Pemanasan
Unsur |
|
|
|
a. Cu |
Perubahan
fisika karena tembaga yang telah dipanaskan dapat kembali ke wujud awal |
|
|
b.
C10H8 |
Perubahan fisika
karena naftalen yang dipanaskan berubah menjadi uap dan terbentuk kembali
kristal padatan |
|
2 |
Pemanasan Senyawa |
|
|
|
a.
H2O |
Perubahan senyawa
karena es batu yang dipanaskan menjadi cair pada suhu 28 derajat celcius |
|
3 |
Reaksi Larutan |
|
|
|
a.
Na2CO3 + HCl |
Larutan pekat dan
muncul gelembung kecil |
|
|
b.
Na2SO4
+ HCl |
Larutan tetap
jernih |
|
|
c.
NaNO3 + KI |
Larutan menjadi
lebih keruh |
|
|
d.
Pb(NO3)2
+ KI |
Larutan berubah
warna menjadi kuning |
|
2. Jelaskan apa itu sifat fisika dan sifat kimia serta apa yang memengaruhinya! Jawab: Sifat fisika adalah sifat yang dapat diukur dan diamati, serta diteliti tanpa mengubah komposisi atau susunan dari zat tersebut dan yang memengaruhi sifat fisika adalah wujud, warna benda, massa jenis, titik didih, dan titik leleh. Sifat kimia adalah sifat suatu materi yang dapat diketahui jika materi tersebut bereaksi dengan zat lain dan yang memengaruhi sifat kimia adalah tingkat oksidasi, daya hantar, dan sifat mudah meledak. 3. Jelaskan apa itu perubahan fisika dan perubahan kimia serta apa saja yang memengaruhinya! Jawab: Perubahan fisika adalah bentuk perubahan pada zat suatu benda yang hanya dapat diamati bagian fisik atau wujudnya saja. Perubahan kimia adalah perubahan yang terjadi pada bentuk dan ukuran zat yang kemudian menghasilkan zat baru. 4. Bagaimana cara membedakan perubahan fisika dan perubahan kimia pada suatu zat! Jawab: Cara membedakan perubahan fisika dan perubahan kimia pada suatu zat adalah dengan melihat apakah ada zat baru yang dihasilkan dari percobaan tersebut dan lihat dari bentuk wujud, ukuran, sifat, dan perubahan fisik lainnya. |
||
LAMPIRAN
|
NO |
KEGIATAN |
PENJELASAN |
FOTO |
||
|
1 |
Mempelajari
Sifat Fisika Unsur (Membedakan Logam dan Non Logam) |
||||
|
|
a.
Aluminium |
Aluminium (Al) merupakan unsur logam yang berbentuk bulat padat, berwarna perak, dan tidak memiliki bau. |
|
||
|
|
b.
Magnesium |
Padatan magnesium (Mg) merupakan unsur logam yang berbentuk serpihan, berwarna abu-abu tua, dan tidak memiliki bau. |
|
||
|
|
c.
Seng |
Seng (Zn) merupakan unsur logam yang berbentuk serbuk, berwarna abu-abu, dan tidak memiliki bau. |
|
||
|
|
d.
Belerang |
Belerang (S) merupakan unsur non logam yang bebentuk bubuk, berwarna kuning, dan memiliki bau. |
|
||
|
|
e.
Karbon |
Karbon (C) merupakan unsur non logam yang berbentuk serbuk, berwarna hitam, dan tidak memiliki bau. |
|
||
|
2 |
Menentukan
Titik Didih (Sifat Fisika Suatu Senyawa) |
||||
|
|
a.
Metanol |
Dimasukkan 300 ml air ke dalam gelas piala. |
|
||
|
|
|
Gelas piala (gelas beaker) diletakkan di atas hot plate, kemudian gelas piala yang berisi air dididihkan, dan hotplate dimatikan kembali |
|
||
|
Dimasukkan 2 mL dan sebutir batu didih, lalu dimasukkan ke dalam air di gelas piala |
|
||||
|
Metanol yang masih panas diukur suhunya menggunakan termometer. |
|
||||
|
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampai 1 cm di atas permukaan metanol. Suhu dicatat setelah ada kondesat menetes dari ujung termometer. |
|
||||
|
3 |
Kelarutan |
||||
|
|
a.
Tabung
1 (Naftalen) |
Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan beberapa naftalen. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak |
|
||
|
|
|
||||
|
b.
Tabung
2 (Kristal Sukrosa) |
Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan kristal sukrosa. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak? |
|
|||
|
|
|
||||
|
c.
Tabung
3 (Belerang) |
Dimasukkan 5 mL air suling dan dimasukkan serbuk belerang. Kemudian, dikocok dan dilihat apakah larut dalam air atau tidak? |
|
|||
|
|
|
||||
|
4 |
Pencampuran |
||||
|
|
a.
Metanol |
Dimasukkan air 5 mL ke dalam tabung reaksi. Metil alkohol dimasukkan ke dalam tabung pertama. Lalu, dikocok dan diamati perubahannya apakah tercampur secara merata atau tidak? |
|
||
|
|
|
||||
|
|
b.
Heksana |
Dimasukkan air 5 mL ke dalam tabung reaksi. Heksana dimasukkan ke dalam tabung pertama. Lalu, dikocok dan diamati perubahannya apakah tercampur secara merata atau tidak? |
|
||
|
|
|
||||
|
5 |
Pemanasan
Unsur |
||||
|
|
a.
Kawat
Tembaga |
Sepotong kawat tembaga dipanaskan. Kemudian, didinginkan beberapa saat untuk diamati perubahan yang terjadi. |
|
||
|
|
|
||||
|
|
b.
Pemanasan
Naftalen |
Beberapa naftalen dimasukkan ke dalam gelas piala. |
|
||
|
Kemudian, ditutup dengan cawan arloji yang di atasnya terdapat es batu dan dipanaskan menggunakan hot plate. |
|
||||
|
Hasil yang terjadi adalah dapat dilihat butiran naftalen mengeluarkan uap. Lalu, terdapat kristal naftalen di bawah cawan arloji. |
|
||||
|
6 |
Pemanasan
Senyawa |
||||
|
|
a.
Es
Batu |
Es batu dimasukkan ke dalam gelas piala. |
|
||
|
Lalu, es batu tersebut dipanaskan menggunakan hot plate dan terjadi perubahan fase dari padat menjadi cair. |
|
||||
|
7 |
Reaksi
Larutan |
||||
|
|
a.
Na2CO3
+ HCl |
Larutan Na2CO3 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan memekat dan terdapat gelembung-gelembung kecil. |
|
||
|
|
b.
Na2SO4
+ HCl |
Larutan Na2SO4 + HCl termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan tetap jernih. |
|
||
|
|
c.
NaNO3
+ KI |
Larutan NaNO3(aq) + KI(aq) termasuk ke dalam perubahan kimia yang ditandai dengan larutan menjadi lebih keruh. |
|
||
|
|
|
||||
|
|
|
||||
|
|
|
||||
|
|
|
|
|
||
|
|
|
||||
|
|
d.
Pb(NO3)2
+ KI |
|
|
||
|
|
|
||||
|
|
|
||||
|
|
|
|
|
||
|
|
|
||||
|
|
|
||||
MATERIAL SAFETY DATA SHEETS
1.
Magnesium
(Mg)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Padat
Penampilan
: putih perak
Bau
: tidak ada yang dilaporkan
pH
: >7 (larutan air)
Titik
didih : 1107,2 derajat C
Titik
Pembekuan : 650 derajat C.
Kelarutan
: Tidak larut dalam air.
Gravitasi
: 1.74
Rumus
Molekul : Mg
Berat
Molekul : 24,3
Bahaya
Padatan
yang mudah terbakar. Air-reaktif. Kontak dengan air melepaskan gas yang sangat
mudah terbakar. Dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit. Dapat menyebabkan
iritasi saluran pernapasan. Menghirup asap dapat menyebabkan demam asap logam.
Sensitif terhadap udara.
Penanganan
Mata:
Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit:
Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.
Tertelan:
Jika korban sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir susu atau air. Dapatkan
bantuan medis segera.
Penghirupan:
Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan
pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan
medis.
Catatan
untuk Dokter: Penggunaan kalsium glukonat sebagai pengobatan penangkal magnesium over dosis harus ditentukan
hanya oleh tenaga medis yang berkualifikasi.
2.
Aluminium
(Al)
Sifat
Fisika dan Kimia
Bentuk
: serbuk
Warna
: metalik
Titik
lebur/titik beku : 660,37 °C
Titik
didih awal/rentang didih : 2.460 °C
Kerapatan
: (densitas) relatif
Bahaya
Toksisitas
akut, Korosi/iritasi kulit, dan Kerusakan mata serius/iritasi mata
Penanganan
Jika
terhirup : hirup udara segar.
Jika
kontak dengan kulit :Tanggalkan segera semua pakaian yang
terkontaminasi.
Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air.
Jika
kontak dengan mata : bilaslah dengan air yang banyak. Lepaskan lensa kontak.
Jika
tertelan : beri air minum kepada korban (paling banyak dua gelas). Konsultasi
kepada dokter jika merasa tidak sehat.
3.
Kawat
tembaga (Cu)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Bubuk
Penampilan
: merah sampai coklat
Bau
: tidak ada yang dilaporkan
pH
: Tidak tersedia.
Titik
didih : 2595 deg C
Titik
Beku/Leleh : 1083 deg C
Kelarutan
: Tidak larut dalam air.
Berat
Jenis : 8,92
Berat
Molekul : 63,54
Bahaya
Mata:
Menyebabkan iritasi mata. Kulit: Menyebabkan iritasi kulit. Dapat menyebabkan
perubahan warna kulit. Tertelan: Menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan
mual, muntah dan diare. Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Inhalasi:
Debu mengiritasi saluran pernapasan. Menghirup asap dapat menyebabkan demam
asap logam, yang ditandai dengan gejala seperti flu dengan rasa logam, demam,
menggigil, batuk, lemas, nyeri dada, nyeri otot, dan peningkatan jumlah sel
darah putih. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat
menyebabkan dermatitis. Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru.
Penanganan
Mata:
Bilas mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali mengangkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit:
Bilas kulit dengan banyak air setidaknya selama 15 menit sambil melepaskan
pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis jika iritasi
berkembang atau berlanjut.
4.
Asam
nitrat (HNO3)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Cair
Penampilan
: bening hingga kuning
Bau
: bau menyengat - bau tajam - bau menyesakkan
Densitas
Uap : 2,17 (udara=1)
Titik
didih : 86 deg C
Titik
beku/lebur : -42 deg C
Kelarutan
: Larut dalam air.
Berat
Jenis : 1,4
Berat
Molekul : 63,01
Bahaya
Mata:
Menyebabkan luka bakar mata yang parah. Kontak langsung dengan cairan dapat
menyebabkan kebutaan atau kerusakan mata permanen. Kulit: Menyebabkan kulit
terbakar. Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus. Asam nitrat
pekat mewarnai kulit manusia dengan warna kuning saat kontak. Proses menelan:
Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan.
Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi
saluran pencernaan. Dapat menyebabkan efek sistemik. Penghirupan: Efek mungkin
tertunda. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Inhalasi bisa
berakibat fatal sebagai akibat dari kejang, peradangan, edema laring dan
bronkus, pneumonitis kimia dan edema paru. Aspirasi dapat menyebabkan edema
paru. Dapat menyebabkan efek sistemik. Dapat menyebabkan edema paru akut,
asfiksia, pneumonitis kimia, dan obstruksi jalan napas bagian atas yang
disebabkan oleh edema. Tergantung pada kondisinya, uap atau asap asam nitrat
sebenarnya dapat berupa campuran asam nitrat dan berbagai oksida nitrogen.
Komposisi dapat bervariasi dengan suhu, kelembaban, dan kontak dengan bahan
organik lainnya. Kronis: Paparan uap asam nitrat konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan pneumonitis dan edema paru yang dapat berakibat fatal. Gejala
mungkin atau mungkin tidak tertunda. Paparan terus menerus terhadap uap &
kabut asam nitrat dapat menyebabkan bronkitis kronis, & paparan yang lebih
parah menyebabkan pneumonitis kimia. Uap & kabut asam nitrat dapat mengikis
gigi, terutama mempengaruhi gigi taring & gigi seri.
Penanganan
Mata:
Dapatkan bantuan medis segera. JANGAN biarkan korban menggosok mata atau
menutup mata. Diperlukan irigasi ekstensif dengan air (setidaknya 30 menit).
Kulit:
Dapatkan bantuan medis segera. Segera basuh kulit dengan banyak air selama
minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci
pakaian sebelum digunakan kembali. Hancurkan sepatu yang terkontaminasi.
Tertelan:
Jangan memaksakan muntah. Jika korban sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir
susu atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang
tidak sadarkan diri. Dapatkan bantuan medis segera.
Inhalasi:
Dapatkan bantuan medis segera. Hapus dari paparan dan pindahkan ke udara segar
segera. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas,
berikan oksigen. JANGAN gunakan resusitasi mulut ke mulut. Jika pernapasan
telah berhenti, lakukan pernapasan buatan menggunakan oksigen dan alat mekanis
yang sesuai seperti tas dan masker.
5.
Perak
nitrat (AgNO3)
Sifat
Fika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Padat
Penampilan
: putih
Bau
: tidak berbau
pH
: ~ 6
Titik
didih : 433 derajat C
Titik
Pembekuan/Leleh: 212 derajat C
Suhu
Dekomposisi : 440 derajat C
Kelarutan
: Larut.
Gravitasi
/ Kepadatan Spesifik: 4,35
Berat
Molekul : 169,87
Bahaya
Mata:
Menyebabkan luka bakar pada mata. Kulit: Menyebabkan kulit terbakar. Mungkin
berbahaya jika diserap melalui kulit. Tertelan: Menyebabkan luka bakar pada
saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika tertelan. Menelan garam perak
terlarut dapat menyebabkan argyria, ditandai dengan pigmentasi biru-abu-abu
permanen pada kulit, selaput lendir, dan mata. Dosis mematikan bagi manusia
adalah 2 gram atau sekitar 28,6 mg/kg. Penghirupan: Menyebabkan iritasi parah
pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan
bernapas, dan kemungkinan koma. Kronis: Dapat menyebabkan methemoglobinemia. Menghirup
atau menelan garam perak secara kronis dapat menyebabkan argyria
Penanganan
Mata:
Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit:
Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.
Tertelan:
Dapatkan bantuan medis segera. JANGAN menginduksi muntah. Jika sadar dan
waspada, bilas mulut dan minum 2-4 cangkir susu atau air.
Penghirupan:
Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika sulit bernafas,
berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis. Jangan gunakan resusitasi mulut ke
mulut jika korban menelan atau menghirup zat tersebut; menginduksi pernapasan
buatan dengan bantuan masker saku yang dilengkapi dengan katup satu arah atau
perangkat medis pernapasan lain yang sesuai.
Catatan
untuk Dokter: Rawat sesuai gejala dan suportif.
6.
Kalsium
karbonat (CaCO3)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Padat
Penampilan
: putih
Bau
: tidak berbau
pH
: 8-9 (larutan)
Titik
Pembekuan /Leleh: 825 derajat C
Suhu
Dekomposisi : 825 derajat C
Kelarutan
: Sedikit larut dalam air.
Kepadatan
: 2.7-2.9
Berat
Molekul : 100.09
Bahaya
Mata
: Menyebabkan iritasi mata. Kulit: Dapat menyebabkan iritasi kulit. Tertelan:
Tertelan dalam jumlah besar dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal.
Diharapkan menjadi bahaya konsumsi yang rendah. Penghirupan: Bahaya rendah
untuk penanganan industri biasa. Inhalasi yang berlebihan dapat menyebabkan
iritasi pernapasan ringan.
Penanganan
Mata:
Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit:
Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan
pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis jika iritasi
berkembang atau berlanjut.
Tertelan:
Dapatkan bantuan medis. JANGAN menginduksi muntah. Jika sadar dan waspada,
bilas mulut dan minum 2-4 cangkir susu atau air.
Penghirupan:
Jauhkan dari paparan dan segera pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas,
berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan
bantuan medis jika batuk atau gejala lain muncul.
7.
Asam
sulfat (H2SO4)
Sifat
Fisika dan Kimia
Berat
Molekul : 98,07
Keadaan
Fisik : Cair
Penampilan : berminyak - bening tidak berwarna
hingga kuning
Bau
: tidak berbau
pH : 0,3 (larutan 1N)
Tingkat Penguapan : Lebih lambat dari eter.
Titik didih : 290 - 338 derajat C
Titik Pembekuan/Leleh:10 derajat C
Suhu Dekomposisi : 340 derajat C
Kelarutan : Larut dengan banyak panas
Bahaya
Mata:
Menyebabkan luka bakar mata yang parah. Dapat menyebabkan cedera mata
ireversibel. Dapat menyebabkan kebutaan. Kulit: Menyebabkan kulit terbakar.
Tingkat keparahan cedera tergantung pada konsentrasi larutan dan durasi
paparan. Tertelan: Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran
pencernaan. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Terhirup: Dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dengan rasa sakit terbakar di
hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, sesak napas dan edema paru. Menyebabkan
luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Kronis: Kontak kulit yang
berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Inhalasi yang
berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan mimisan, hidung tersumbat, nyeri
dada dan bronkitis. Kontak mata yang lama atau berulang dapat menyebabkan
konjungtivitis. Efek mungkin tertunda. Pekerja yang terpapar kabut asam sulfat
secara kronis dapat menunjukkan berbagai lesi pada kulit, trakeobronkitis,
stomatitis, konjungtivitis, atau gastritis. Paparan di tempat kerja terhadap
kabut asam anorganik kuat yang mengandung asam sulfat bersifat karsinogenik
bagi manusia.
Penanganan
Mata:
Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15
menit. Dapatkan bantuan medis segera.
Kulit:
Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan
bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.
Tertelan:
Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban
sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut
kepada orang yang tidak sadarkan diri.
Terhirup:
bahan RACUN. Jika terhirup, segera dapatkan bantuan medis. Pindahkan korban ke
udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit
bernafas, berikan oksigen.
8.
Asam
klorida (HCl)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Cair
Penampilan
: jernih, tidak berwarna hingga kuning pucat
Bau
: kuat, menyengat
pH
: 0,01
Densitas
Uap : 1,27 (udara=1)
Laju
Penguapan : > 1,00 (N-butil asetat)
Titik
Beku/ Leleh : -66 derajat C
Kelarutan
: Larut.
Berat
Jenis : 1,19 (38%)
Berat
Molekul : 36,46
Bahaya
Mata:
Dapat menyebabkan cedera mata ireversibel. Uap atau kabut dapat menyebabkan
iritasi dan luka bakar yang parah. Kontak dengan cairan bersifat korosif pada
mata dan menyebabkan luka bakar yang parah. Kulit: Kontak dengan cairan
bersifat korosif dan menyebabkan luka bakar dan ulserasi yang parah. Tingkat
keparahan cedera tergantung pada konsentrasi larutan dan durasi paparan. Proses
menelan: Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan yang parah dengan sakit
perut, muntah, dan kemungkinan kematian. Dapat menyebabkan korosi dan kerusakan
jaringan permanen pada kerongkongan dan saluran pencernaan. Terhirup: Dapat
berakibat fatal jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi parah pada saluran
pernapasan dengan sakit tenggorokan, batuk, sesak napas dan edema paru yang
tertunda. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Menyebabkan
tindakan korosif pada selaput lendir. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan
atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Paparan berulang dapat menyebabkan
erosi gigi. Paparan berulang terhadap uap atau kabut HCl konsentrasi rendah
dapat menyebabkan pendarahan pada hidung dan gusi. Bronkitis kronis dan
gastritis juga telah dilaporkan.
Penanganan
Mata:
Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air setidaknya selama 15
menit. Dapatkan bantuan medis segera.
Kulit:
Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit
sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan
medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.
Tertelan:
Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban
sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut
kepada orang yang tidak sadarkan diri.
Terhirup:
bahan RACUN. Jika terhirup, segera dapatkan bantuan medis. Pindahkan korban ke
udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit
bernafas, berikan oksigen.
9.
Tembaga
(II) sulfat (CuSO4)
Sifat
Kimia dan Fisika
Nama
Produk : Tembaga(II) Sulfat Pentahidrat
Berat
Molekul : 249.6 g/mol
Bentuk
: padat
Warna
: biru
Bau
: Tak berbau
pH
: 3,5 - 4,5 pada 50 g/l 20 °C
Titik
lebur : 147 °C
Densitas
: 2,284 g/cm3 pada 20 °C
Kelarutan
: dalam air 317 g/l pada 20 °C
Bahaya
Berbahaya
jika tertelan. Menyebabkan kerusakan mata yang serius. Sangat toksik pada
kehidupan perairan dengan efek jangka panjang.
Penanganan
Saran
umum Pemberi pertolongan pertama harus melindungi dirinya. Setelah terhirup :
hirup udara segar. Jika napas terhenti: berikan napas buatan mulut ke mulut
atau secara mekanik. Berikan masker oksigen jika mungkin. Segera hubungi
dokter. Bila terjadi kontak kulit : bilaslah dengan air yang banyak. Hubungi
dokter mata. Setelah kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Segera
hubungi dokter mata. Lepaskan lensa kontak. Setelah tertelan: segera beri
korban minum air putih (dua gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.
10.
Besi
(III) klorida (FeCl3)
Sifat
Fisika dan Kimia
Bentuk
: Serbuk
Warna
: Hijau sampai hitam
Bau
: Pedih
pH
: 1 pada 200 g/l 20 °C
Titik
lebur : 306 °C (penguraian)
Bahaya
dapat
menyebabkan korosif pada logam, menyebabkan iritasi pada kulit, dan dapat
menyebabkan iritasi pada mata yang serius.
Penanganan
Setelah
menghirup: hirup udara segar.
Bila
terjadi kontak kulit: Tanggalkan segera semua pakaian yang terkontaminasi.
Bilaslah kulit dengan air/ pancuran air. Periksakan ke dokter.
Setelah
kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Segera hubungi dokter mata.
Lepaskan lensa kontak.
Setelah
tertelan: segera beri korban minum air putih (dua gelas paling banyak).
Periksakan ke dokter.
11.
Etanol
(C2H5OH)
Sifat
Fisika dan Kimia
Massa
molar : 46.069 g/mol
Penampilan
: Cairan tidak berwarna
Densitas
: 0.8 g/cm3
Titik
didih : 78.5oC
Titik
leleh : -114.1oC
Titik
nyala : 12.8oC (55oF)
pH
: 7 pada 10 g/l pada 20oC
Kelarutan
: 1000.0 mg/mL dalam air
Viskositas
: 1.074 mPa.s pada 25oC
Bahaya
Flammable,
irritant
Penanganan
Terkena
mata : bilas dengan air yang banyak. Hubungi dokter mata. Lepas lensa kontak.
Terkena
kulit : Tanggalkan segera semua pakaian yang terkontaminasi. Bilaslah kulit
dengan air/ pancuran air.
Terhirup
: segera hirup udara segar. Tertelan : segera beri korban minum air putih (dua
gelas paling banyak). Periksakan ke dokter.
12.
Natrium
karbonat (Na2CO3)
Sifat
fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Bubuk
Penampilan
: putih
Bau
: tidak berbau
pH
: Tidak tersedia.
Titik
didih : 1600 derajat C pada 760 mmHg
Titik
Leleh : 851 derajat C
Kelarutan
: 22 g/100mL (20 °C)
Gravitasi
/ Kepadatan Spesifik : 2.53
Berat
Molekul : 105,99
Bahaya
Mata:
Menyebabkan iritasi mata. Lachrymator (zat yang meningkatkan aliran air mata).
Kulit:
Menyebabkan iritasi kulit. Mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit.
Tertelan:
Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika
tertelan.
Terhirup:
Berbahaya jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan.
Kronis:
Efek reproduksi yang merugikan telah dilaporkan pada hewan.
Penanganan
Mata:
Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit:
Dapatkan bantuan medis. Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.
Tertelan:
Jangan memaksakan muntah. Dapatkan bantuan medis.
13.
Natrium
klorida (NaCl)
Sifat
Fisika dan Kimia
Berat Molekul : 58,44
Keadaan Fisik : Padat
Penampilan : putih
Bau : tidak berbau
Titik beku/lebur :801°C
Kelarutan : 360 g/L (20 °C)
Gravitasi : 2.165
Bahaya
Mata:
Dapat menyebabkan iritasi mata. Paparan padatan dapat menyebabkan rasa sakit
dan kemerahan.
Kulit:
Dapat menyebabkan iritasi kulit. Mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit.
Tertelan:
Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Mungkin berbahaya jika
tertelan. Tertelan dalam jumlah besar dapat menyebabkan mual dan muntah,
kekakuan atau kejang-kejang. Paparan terus menerus dapat menghasilkan koma,
dehidrasi, dan organ dalam
Terhirup:
Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Mungkin berbahaya jika terhirup.
Kronis:
Tidak ada informasi yang ditemukan
14.
Amonia
(NH3)
Sifat
Fisika dan Kimia
Wujud
: Gas
Warna
: Tidak berwarna
Bau
: Menyengat
Titik
didih : -33,4 °C
Suhu
Penyalaan : 651 °C
Bahaya
Mengiritasi
atau korosif pada jaringan yang terbuka, Menyebabkan radang paru-paru jika
terhirup, Kebutaan, dan Luka bakar pada kulit
Penanganan
Jika
kontak mata : bilaslah dengan air mengalir selama 15 menit. Segera hubungi
dokter. Setelah kontak dengan kulit : segera bilas dengan air yang banyak.
Lepaskan pakaian yang terkontaminasi.
Setelah
terhirup : segera hirup udara segar. Segera hubungi dokter. Setelah tertelan :
beri korban minum yang banyak. Segera hubungi dokter.
15.
Natrium
hidroksida (NaOH)
Sifat
fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Padat
Penampilan
: putih
Bau
: Tidak berbau
Tekanan
Uap : 1 mm Hg pada739 derajat C
Titik
didih : 1390 derajat C pada 760 mmHg
Titik
Pembekuan/Leleh : 318 derajat C.
Kelarutan
: Larut.
Gravitasi/Kepadatan
Spesifik : 2,13 g/cm3
Berat
Molekul : 40
Bahaya
Menyebabkan
luka bakar pada mata dan kulit. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan
dan pernafasan. Higroskopis (menyerap kelembaban dari udara).Mata : Menyebabkan
luka bakar pada mata. Dapat menyebabkan kebutaan. Dapat menyebabkan
konjungtivitis kimia dan kerusakan kornea. Kulit : Menyebabkan kulit terbakar.
Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus. Tertelan : Dapat
menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan
luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi saluran
pencernaan. Menyebabkan sakit parah, mual, muntah, diare, dan syok. Inhalasi :
Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Menyebabkan iritasi
parah pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan
bernapas, dan kemungkinan koma. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan.
Kronis : Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan
dermatitis. Efek mungkin tertunda
Pertolongan
Pertama
Mata
: Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15
menit. Dapatkan bantuan medis segera.
Kulit
: Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan
bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.
Tertelan
: Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban
sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut
kepada orang yang tidak sadarkan diri.
Terhirup : Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis.





.jpeg)
.jpeg)









.jpeg)








.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)





.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar