LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1 KELOMPOK 4 - TITRASI DAN KESETIMBANGAN ASAM BASA: INDIKATOR DAN PENGUKURAN PH
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1
TITRASI DAN KESETIMBANGAN ASAM BASA: INDIKATOR DAN PENGUKURAN pH
Tanggal Praktikum : 7 November 2022
Kelompok : 4
Nama Anggota :
Muhammad Naufal Rahman (11220960000071)
Indi Aleyda Mustika (11220960000073)
Izzatun Nisa (11220960000087)
Kelas : Kimia 1C1
Dosen Pengampu : Ahmad Fathoni, M.Si
PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Prinsip Percobaan
Prinsip dasar titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dan basa sehingga terjadi perubahan pH larutan yang dititrasi. Pada percobaan ini melakukan analisis standarisasi Natrium hidroksida dengan Asam oksalat 0,1 N hingga terjadi perubahan warna indikator dan melakukan analisis terhadap konsentrasi Asam klorida yang dititrasi.
Penentuan kadar larutan asam yang ditentukan menggunakan larutan basa yang telah distandarisasi, titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai ekivalen. Pada saat titik ekivalen maka proses titrasi dihentikan. Kemudian mencatat titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran dan konsentrasi titer, maka dapat menghitung kadar titran.
1.2 Tujuan Percobaan
- Mampu mengetahui konsentrasi suatu larutan asam berdasarkan metode titrasi asam basa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya (Brady, 1999).
Definisi pertama yang paling sederhana untuk asam dan basa adalah definisi Arrhenius. Asam menurut Arrhenius adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air untuk menghasilkan H+. Basa menurut Arrhenius adalah suatu zat yang terdisosiasi dalam air menghasilkan OH-. Definisi asam-basa ini diperbaiki oleh definisi asam-basa Bronsted dan Lewis yang lebih bermanfaat (Bresnick, 2002). Asam, menurut Bronsted-Lowry, adalah zat yang dapat memberikan proton-proton (H+). Basa, menurut Bronsted-Lowry, adalah zata yang dapat menambah atau menerima proton-proton (OH-). Istilah khusus contoh, air bertindak sebagai asam Bronsted-Lowry memberikan proton pada amonia. Amonia bertindak sebagai basa Bronsted-Lowry dan menerima proton (Fessenden, 1986). Pada umumnya definisi asam-basa mengikuti apa yang dinyatakan oleh Arrhenius atau Bronsted-Lowry, tapi dengan adanya struktur yang diajukan Lewis muncul definisi asam dan basa baru. Asam Lewis didefinisikan sebagai spesi yang menerima pasangan elektron. Basa Lewis didefinisikan sebagai spesi yang memberikan pasangan elektron. Sehingga H+ adalah asam dan OH- dan NH3 adalah basa, karena keduanya adalah penyumbang pasangan elektron (Darfisuwir, 2020).
Titrasi didefinisikan sebagai suatu proses dalam praktikum analisis volumetri yang melibatkan sebuah solusi standar yang telah diketahui konsentrasi masuknya (titran) dengan solusi yang belum diketahui konsentrasi sebuah (titrat). Analisis dilakukan dengan penentuan konsentrasi solusi melalui penetesan titran ke solusi titrat pada erlenmeyer hingga mencapai titik ekuivalen (Almatsier, 2003). Analisis volumetrik (titrimetrik) secara umum merupakan cara cepat analisis kuantitatif yang mampu menghasilkan ketelitian dan ketepatan cukup tinggi. Pada pengerjaan ini perlu diperhatikan benar prosedur pembuatan larutan dan memakai selalu peralatan yang bebas dari lemak (Nurhasni dan Yusraini, 2022).
Titrasi asam basa sering dilakukan secara rutin untuk memantau keasaman dan kebasaan larutan terpakai dalam proses-proses industri. Indikator visual harus mengalami perubahan warna dalam interval pH yang meliputi titik ekivalen, pH pada titik ekivalent dapat ditentukan potensiometrik dengan jalan mengukur pH memakai elektroda kaca sebagai fungsi volum titran yang ditambahkan dan mengalurkan pada kertas grafik. Titrasi potensiometrik sangat diperlukan jika harus dititrasi sample yang bewarna atau jika kondisi larutan adalah sedemikian rupa sehingga menghambat pemakaian indikator visual (Nurhasni dan Yusraini, 2022). Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan dimasukkan ke dalam wadah atau tabung. Larutan lain yaitu basa dimasukkan ke dalam buret lalu dimasukkan ke dalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Titik pada saat titrasi dimana indikator berubah warna dinamakan titik akhir (end point) dari indikator. Yang diperlukan adalah memadamkan titik akhir indikator yang perubahannya terjadi dalam selang pH yang meliputi pH sesuai denagn titik setara (Pettruci, 2008).
Sumber ion OH- adalah larutan NaOH encer dan ion H+ adalah larutan asam, mula-mula disiapkan NaOH 0,1M kemudian distandarisasikan dengan larutan asam yang lain yang telah diketahui konsentrasinya, larutan NaOH tidak tersedia dalam keadaan murni dan larutannya dapat berubah konsentrasinya. NaOH haruslah distandarisasikan sebelum digunakan untuk mentitrasi sampel. Pada sumber ion H adalah lurutan NaOH kebanyakan pada titrasi asam basa. Perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Oleh karena itu, untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator karena zat ini memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu secara ideal. Titik titrasi seharusnya sama dengan titik akhir titrasi (titik ekivalen). Asam dan basa terurai sempurna dan larutan berat oleh karena itu, pH sebagian titik selama titrasi air dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam basam yang dibiarkan bereaksi (Sudarto, 2008).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat
Buret 50 mL, pipet gondok 25 mL, gelas piala 100 mL, tiga buah erlenmeyer 250 mL, corong, dan dua buah pipet tetes.
3.2 Bahan
Larutan Natrium hidroksida (NaOH 0,1 N), Asam oksalat dihidrat 0,1 N, larutan Asam klorida, indikator fenolftalein, dan aquadest.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Standarisasi NaOH dengan Asam Oksalat 0,1 N
3.3.2 Penentuan Konsentrasi HCl
4.1.1 Standarisasi NaOH dalam Asam Oksalat 0,1 N
4.1.2 Penentuan Konsentrasi HCl
4.2 Pembahasan
Pada percobaan pertama adalah standarisasi Natrium hidroksida
(NaOH) oleh Asam oksalat (H2C2O4). Setelah
ditetesi indikator PP/fenolftalein tidak bewarna, namun setelah dititrasi
berwarna merah muda, rata-rata titrasi dua kali yaitu 10,7 mL dan
konsentrasinya sebesar 0,09 N. Percobaan ini dilakukan dengan metode
asidimetri, dimana NaOH sebagai larutan primer (titran) dan asam oksalat
sebagai larutan sekunder (titrat). Penggunaan metode ini diberikan perlakuan
standarisasi agar NaOH tidak mengalami perubahan konsentrasi atau dengan kata
lain memastikan ketepatan konsentrasi NaOH awal yaitu 0,1 N. Perlakuan tersebut
dilakukan karena NaOH merupakan larutan baku sekunder yang cenderung tidak
stabil dan mudah mengalami perubahan konsentrasi akibat mudah menyerap air di
lingkungan sekitarnya yang menimbulkan pengenceran. Larutan NaOH dilakukan
standarisasi menggunakan asam oksalat karena asam oksalat merupakan larutan
baku primer bersifat stabil. Mula-mula larutan baku sekunder
NaOH sebagai standar basa dimasukkan ke dalam buret 50 mL, kemudian dimasukkan
10 mL asam oksalat ke dalam erlenmeyer, lalu ditambahkan indicator fenolftalein
sebanyak 3 tetes. Fenolftalein adalah indicator satu warna dengan trayek pH
8,0-9,6 (Harjadi,1996). Dalam percobaan ini larutan tetap bening karena
indicator fenolftalein jika ditambahkan dengan larutan yang bersifat asam tidak
akan menghasilkan warna. Setelah itu dilakukan penetesan larutan baku sekunder
NaOH dari buret ke dalam Erlenmeyer yang berisi asam oksalat sambil dikocok
hingga menimbulkan adanya perubahan warna dalam labu Erlenmeyer dari bening ke
merah muda pucat atau ungu muda pucat. Perubahan warna ini terjadi ketika pH
larutan mengalami perubahan selama titrasi dan titrasi diakhiri pada saat pH
ekuivalen telah tercapai (Supardi dan Luhbandjono, 2006). Terdapat 1 percobaan
dari 2 kali percobaan dilakukan ditemukan warna lebih mencolok. Hal tersebut
terjadi karena praktikan melebihi sedikit titik titrasi. Perubahan warna pada
fenolftalein terjadi akibat adanya perubahan pada struktur molekulnya. Dalam
larutan asam, fenolftalein berada dalam bentuk molekul HIn-nya. Dalam larutan
basa, struktur In menjadi terbuka dan datar. Hal ini menyebabkan elektron bebas
dan spektrum absorpsi molekulnya memancarkan warna merah. Inilah yang
menyebabkan perubahan warna pada indikator fenolftalein.
Reaksi kesetimbangan fenolftalein:
H-PhPh (aq)
⇌ H+ (aq) + PhPh-(aq)
Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan kearah kiri dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk mengubah indikator menjadi merah muda (Safrizal, Rino, 2017). Diluar trayek pH, indikator fenolftalein hanya menampakkan warna asam atau basa tanpa tergantung dari pH sesungguhnya. Dengan perkataan lain kita dapat menentukan pH suatu bahan berdasarkan warna indikator asal nilainya terletak dalam trayek pH indikator yang dipakai (Harjadi, 1996). Perubahan warna menjadi ungu muda ini, menunjukkan bahwa larutan bersifat basa dengan interval pH antara 8,0-10,0. Pengulangan standarisasi dilakukan sebanyak 2 kali agar bisa mendapatkan hasil yang akurat, dimana volume NaOH yang digunakan yaitu 10,8 mL dan 10,6 mL. Sehingga volume rata-rata dan nilai konsentrasi yang didapat yaitu 10,7 mL dan 0,09N.
Percobaan selanjutnya adalah penentuan konsentrasi Asam klorida
(HCl) oleh Natrium hidroksida (NaOH) yang sudah distandariasasi. Percobaan
penentuan konsentrasi HCl diawali dengan melakukan pengenceran larutan terhadap
HCl pekat untuk memperoleh 0,1 N dalam 250 mL larutan. Penentuan konsentrasi HCl
pada titrasi menggunakan indikator fenolftalein sebanyak 2 kali percobaan dan
indikator metil merah sebanyak 1 kali percobaan. Pada percobaan indikator
fenolftalein, 10 mL larutan HCl ditambahkan 3 tetes fenolftalein ke dalam
erlenmeyer. Hasil percobaan ini menghasilkan larutan tetap bening karena
fenolftalein berada di dalam larutan asam sehingga tidak menghasilkan warna
(teorinya sama dengan asam oksalat diteteskan fenolftalein pada percobaan
pertama). Setelah itu, dititrasi dengan larutan NaOH hingga mencapai titik
akhir titrasi ditandai adanya perubahan warna dari bening menjadi ungu muda
atau merah muda. Titrasi HCl sebagai asam kuat oleh NaOH sebagai basa kuat
didasarkan pada reaksi penetralan asam basa. Ketika campuran berubah warna, hal
ini menunjukkan ion H+ dalam larutan HCl telah dinetralkan
seluruhnya oleh ion OH-
dari NaOH. Terjadi warna merah muda karena dalam larutan terkandung
ion OH- berlebih.
Percobaan HCl indikator fenolftalein dengan NaOH dilakukan pengulangan sebanyak
2 kali agar bisa mendpatkan hasil yang akurat. Volume HCl yang didapatkan dari
percobaan ini yaitu 6 ml dan 8,3 ml dengan rata-rata dan konsentrasi yaitu 7,15
dan 0,06 N. Percobaan lainnya yaitu menggunakan indikator metil merah dengan
menambahkannya sebanyak 3 tetes pada 10 mL HCl 0,1 N. Hasil dari percobaan ini,
warna metil merah tetap berwarna merah karena bercampur dengan larutan asam.
Setelah itu, dititrasi dengan NaOH terjadi perubahan warna menjadi kuning
menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat basa. Percobaan
ini memiliki konsep yang sama dengan percobaan sebelumnnya, hanya saja
perbedaan warna menjadi kuning akibat pertukaran ion H+ dari HCl
dengan OH-
dari NaOH akibat perbedaan indikator yang digunakan. Hal tersebut karena setiap
indikator memiliki perbedaan trayek pH dan warna yang dihasilkan. Volume HCl
yang digunakan dalam NaOH dalam 1 kali percobaan ini sebanyak 6,5 mL.
Indikator adalah suatu zat yang mempunyai warna dalam keadaan asam dan basa berlainan. Beberapa indikator seperti Fenolftalein, Metil orange, Bromtimol biru dan lain-lain umum digunakan untuk menentukan keasaman dalam titrasi asam-basa (Brady, 1999). Suatu indikator jika ditambahkan pada suatu larutan akan merespon keadaan ion H+ dengan terjadi perubahan warna. Indikator-indikator yang berbeda berubah warna pada nilai pH yang berbeda (Salamah, 2012). Kedua percobaan ini menggunakan metode asidimetri alkalimetri karena melibatkan larutan asam yaitu asam klorida dan asam oksalat yang dititrasi menggunakan larutan baku standar basa yaitu NaOH. Alkalimetri merupakan suatu proses analisis atau penetapan kadar secara volumetri dan jumlah total suatu asam dalam suatu larutan dengan menggunakan larutan baku standar (Harjadi, 1993).
BAB V
KESIMPULAN
1. Dari
percobaan yang telah dilakukan, didapatkan konsentrasi Natrium hidroksida
(NaOH) pada titrasi pertama yaitu 0,09 N dan titrasi kedua, konsentrasi suatu larutan
asam yaitu Asam klorida (HCl) sebesar 0,06 N. Dapat diketahui bahwa titrasi
merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan
mereaksikannya dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar
Ilmu Gizi. Jakarta. Gramedia.
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas:
Asas & Struktur Edisi 5. Jakarta: Binarupa Aksara.
Bresnick, S. 2022. Intisari Kimia Umum.
Jakarta: Hipokrates.
Fessenden, R.J. dan Joan S.F. 1986. Kimia
Organik. Jakarta: Erlangga.
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik
Dasar. Jakarta: Gramedia.
Nurhasni
dan Yusraini, DIS. 2022. Pedoman Praktikum Kimia Dasar 1 Program Studi Kimia, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Petrucci,
Ralph. H. 2008. Kimia Dasar: Prinsip-prinsip & Aplikasi Modern Jilid II
Edisi sembilan. Jakarta: Erlangga.
Salamah, Zuchrotus. 2012. “ Petunjuk
Praktikum Biokimia.”
Sudarto,
Unggul. 2008. Analisis Kimia Dasar. Yogyakarta: UNY.
Supardi
& Luhbandjono. 2006. Kimia Dasar II. Semarang: UPT UNNES Press.
Darfisuwir. 2020. Konsep Kimia. Diakses tanggal 1
Desember 2022. https://www.kokim.konsep-matematika.com/2016/11/teori-asam-basa-lewis.html?m=1
Safrizal, Rino. 2017. Indikator Asam Basa. Diakses
tanggal 12 November 2022. https://rinosafrizal.com/indikator.asam.basa/
LAMPIRAN
EVALUASI POST PRAKTIKUM
- Data hasil pengamatan
- Mengapa
larutan NaOH yang digunakan harus distandarisasi dengan asam oksalat terlebih
dahulu?
Jawab: Larutan NaOH harus distandarisasi dahulu dengan menggunakan asam oksalat, karena NaOH merupakan larutan baku sekunder yang cenderung tidak stabil dan dapat berubah konsentrasinya jika disimpan dalam waktu lama. Hal itu yang menyebabkan NaOH mudah terkontaminasi dan bersifat higroskopis atau mudah menyerap uap air sekitarnya, serta dapat dengan mudah bereaksi dengan gas CO2 di udara sehingga menimbulkan pengenceran, maka dibutuhkan larutan primer seperti asam oksalat yang bersifat stabil untuk standarisasi NaOH supaya memastikan ketepatan konsentrasi dan mendorong agar tidak mudah berubah konsentrasinya.
Jika sampel asam klorida (HCl) diganti dengan sampel asam sulfat, sedangkan volum NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titi ekivalen adalah sama dengan volume pada penentuan konsentrasi HCl maka berapakah nilai molaritas dari asam sulfat tersebut?
MSDS (Material Safety Data Sheet)
1.
Natrium
hidroksida (NaOH)
Sifat
fisika dan Kimia
Keadaan Fisik : Padat
Penampilan : putih
Bau : Tidak berbau
pH : 14 (5% aq soln)
Tekanan Uap : 1 mm Hg
pada739 derajat C
Titik didih : 1390
derajat C pada 760 mmHg
Titik Pembekuan/Leleh :
318 derajat C
Suhu Dekomposisi : Tidak
tersedia.
Kelarutan : Larut.
Gravitasi/Kepadatan
Spesifik : 2,13 g/cm3
Berat Molekul : 40
Identifikasi
Bahaya
Menyebabkan luka bakar
pada mata dan kulit. Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan dan
pernafasan. Higroskopis (menyerap kelembaban dari
udara). Mata :
Menyebabkan luka bakar pada mata. Dapat menyebabkan kebutaan. Dapat menyebabkan
konjungtivitis kimia dan kerusakan kornea. Kulit : Menyebabkan kulit terbakar.
Dapat menyebabkan borok kulit yang dalam dan tembus. Tertelan : Dapat
menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan
luka bakar pada saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi saluran
pencernaan. Menyebabkan sakit parah, mual, muntah, diare, dan syok. Inhalasi :
Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Menyebabkan iritasi
parah pada saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan
bernapas, dan kemungkinan koma. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran
pernapasan. Kronis : Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat
menyebabkan dermatitis. Efek mungkin tertunda
Pertolongan
Pertama
Mata: Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit. Dapatkan bantuan medis segera. Kulit : Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Tertelan : Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Terhirup : Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis.
2.
Asam
klorida (HCl)
Sifat Fisika dan Kimia
Keadaan Fisik : Cair
Penampilan : jernih, tidak
berwarna hingga kuning pucat
Bau : kuat, menyengat
pH : 0,01
Densitas Uap : 1,27
(udara=1)
Laju Penguapan : > 1,00 (N-butil
asetat)
Titik didih : 83 derajat C
@ 760 mmHg
Titik Beku/ Leleh : -66
derajat C
Kelarutan : Larut.
Berat Jenis : 1,19 (38%)
Berat Molekul : 36,46
Bahaya
Mata: Dapat menyebabkan
cedera mata ireversibel. Uap atau kabut dapat menyebabkan iritasi dan luka
bakar yang parah. Kontak dengan cairan bersifat korosif pada mata dan
menyebabkan luka bakar yang parah. Kulit: Kontak dengan cairan bersifat
korosif dan menyebabkan luka bakar dan ulserasi yang parah. Tingkat keparahan
cedera tergantung pada konsentrasi larutan dan durasi paparan. Proses
menelan: Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan yang parah dengan sakit
perut, muntah, dan kemungkinan kematian. Dapat menyebabkan korosi dan
kerusakan jaringan permanen pada kerongkongan dan saluran pencernaan.
Terhirup: Dapat berakibat fatal jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi parah
pada saluran pernapasan dengan sakit tenggorokan, batuk, sesak napas dan
edema paru yang tertunda. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran
pernapasan. Menyebabkan tindakan korosif pada selaput lendir. Kronis: Kontak
kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan dermatitis.
Paparan berulang dapat menyebabkan erosi gigi. Paparan berulang terhadap uap
atau kabut HCl konsentrasi rendah dapat menyebabkan pendarahan pada hidung
dan gusi. Bronkitis kronis dan gastritis juga telah dilaporkan.
Penanganan
Mata: Jika terjadi kontak,
segera basuh mata dengan banyak air setidaknya selama 15 menit. Dapatkan
bantuan medis segera. Kulit: Jika terjadi kontak, segera basuh kulit dengan
banyak air selama minimal 15
menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis
segera. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Tertelan: Jika tertelan, JANGAN
dimuntahkan. Dapatkan bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh,
berikan segelas air. Jangan pernah memberikan
apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Terhirup: bahan
RACUN. Jika terhirup, segera dapatkan bantuan medis. Pindahkan korban ke udara
segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit
bernafas, berikan oksigen.
3. Asam
Oksalat (C2H2O4)
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Bubuk
Penampilan
: putih
Bau
: tidak berbau
pH
: 1,3 (0,1 M soln)
Densitas
Uap : 4,62
Titik
Beku/Leleh : 101 derajat C
Kelarutan
: Cukup Larut. 1g/7ml
Berat
Jenis : 1,653 @ 18,5oC
Berat
Molekul : 126.04
Bahaya
Mata: Menyebabkan luka bakar pada mata. Dapat mengakibatkan cedera kornea. Menyebabkan kemerahan dan nyeri. Kulit: Berbahaya jika diserap melalui kulit. Menyebabkan iritasi kulit yang parah dan kemungkinan luka bakar. Luka bakar kimia yang jarang dapat terjadi akibat asam oksalat dan dapat menyebabkan hipokalsemia. Gangren telah terjadi di tangan orang yang bekerja dengan larutan asam oksalat tanpa sarung tangan karet. Lesi kulit ditandai dengan pecahnya kulit dan perkembangan ulkus yang lambat sembuh. Kulit mungkin berwarna kebiruan, dan kuku rapuh dan kuning. Proses menelan: Menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Asam oksalat beracun karena sifat asam dan chelatingnya. Ini sangat beracun ketika tertelan. Sedikitnya 5 gram (71 mg/kg) bisa berakibat fatal. Ulserasi mulut, muntah darah, dan munculnya syok, kejang, kedutan, tetani, dan kolaps kardiovaskula yang cepat dapat terjadi setelah konsumsi asam oksalat atau garam larutnya. Asam oksalat dapat mengikat kalsium membentuk kalsium oksalat yang tidak larut pada pH fisiologis. Kalsium oksalat yang terbentuk dapat mengendap di tubulus ginjal dan otak. Hipokalsemia akibat pembentukan kalsium oksalat dapat mengganggu fungsi jantung dan saraf. Inhalasi:Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernapasan. Menghirup debu atau uap asam oksalat menghasilkan iritasi pada saluran pernapasan, protein dalam urin, mimisan, ulserasi selaput lendir, sakit kepala, gugup, batuk, muntah, kekurusan, sakit punggung (karena cedera ginjal), dan kelemahan. Kronis: Menghirup debu atau kabut asam oksalat dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan penurunan berat badan dan peradangan saluran pernapasan. Tikus yang diberi asam oksalat 2,5 dan 5% dalam makanan selama 70 hari mengalami penurunan fungsi tiroid dan penurunan berat badan. Sebuah studi tentang pembersih gerbong kereta api di Norwegia yang sangat terpapar larutan asam oksalat dan uap mengungkapkan prevalensi 53% urolitiasis (pembentukan batu kemih), dibandingkan dengan tingkat 12% di antara pekerja yang tidak terpapar dari perusahaan yang sama.
Penanganan
Mata:
Jika terjadi kontak, segera basuh mata dengan banyak air setidaknya selama 15
menit. Dapatkan bantuan medis segera. Kulit: Jika terjadi kontak, segera basuh
kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil melepaskan pakaian dan
sepatu yang terkontaminasi. Dapatkan bantuan medis segera. Cuci pakaian sebelum
digunakan kembali. Tertelan: Jika tertelan, JANGAN dimuntahkan. Dapatkan
bantuan medis segera. Jika korban sadar penuh, berikan segelas air. Jangan
pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Terhirup:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis. Penangkal:
Pemberian kalsium glukonat atau kalsium klorida intravena mungkin diperlukan
jika terjadi hipokalsemia atau tetani hipokalsemia.
4. Indikator
fenolftalein
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Padat
Penampilan
: hampir putih
Bau
: Tidak berbau.
Titik
beku/lebur : 261 - 263 derajat C
Suhu
Penguraian : Tidak tersedia.
Kelarutan
: tidak larut
Density
: 1,299
Formula
Molekul : C20H14O4
Berat
Molekul : 318,32
Identifikasi
Bahaya
Mata:
Dapat menyebabkan iritasi mata. Kulit: Dapat menyebabkan iritasi kulit.
Tertelan: Menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan mual, muntah dan diare.
Diharapkan menjadi bahaya konsumsi yang rendah. Terhirup: Dapat menyebabkan
iritasi saluran pernapasan. Bahaya rendah untuk penanganan industri biasa.
Kronis: Dapat menyebabkan cedera ginjal.
Penanganan
Mata:
Bilas mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali mengangkat
kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis. Kulit: Dapatkan bantuan
medis. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Lepaskan pakaian dan sepatu yang
terkontaminasi. Bilas kulit dengan banyak sabun dan air. Tertelan: Jika korban
sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir susu atau air. Jangan pernah memberikan
apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Dapatkan bantuan
medis jika terjadi iritasi atau gejala. Inhalasi: Hapus dari paparan dan
pindahkan ke udara segar segera. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis jika batuk
atau gejala lain muncul. Catatan untuk Dokter: Rawat sesuai gejala dan suportif.
5. Indikator
metil merah
Sifat
Fisika dan Kimia
Keadaan
Fisik : Cair
Penampilan
: tidak berwarna
Bau
: Bau alkohol.
Tekanan
Uap : 33 mm Hg
Kerapatan
Uap : 2,1 (udara=1)
Laju
Penguapan : 1,5 (n-butil asetat=1)
Viskositas
: 2,1 cP pada 25 derajat C
Titik
didih : 82 derajat C
Titik
beku/lebur : -90 derajat C
Suhu
Dekomposisi : Tidak tersedia.
Kelarutan
: Benar-benar larut dalam air.
Berat
Jenis/Kerapatan : 0,78 (air=1).
Rumus
Molekul : Campuran
Identifikasi
Bahaya
Mata: Menghasilkan iritasi, ditandai dengan sensasi terbakar, kemerahan, robek, peradangan, dan kemungkinan cedera kornea. Kulit: Dapat menyebabkan sensitisasi kulit, reaksi alergi, yang menjadi jelas setelah terpapar kembali bahan ini. Kontak yang lama dan/atau berulang dapat menyebabkan penghilangan lemak pada kulit dan dermatitis. Dapat menyebabkan iritasi dengan rasa sakit dan menyengat, terutama jika kulit terkelupas. Tertelan: Dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan mual, muntah dan diare. Dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Dapat menyebabkan depresi system saraf pusat, ditandai dengan kegembiraan, diikuti oleh sakit kepala, pusing, kantuk, dan mual. Tahap lanjut dapat menyebabkan kolaps, tidak sadarkan diri, koma dan kemungkinan kematian akibat gagal napas. Inhalasi: Menghirup konsentrasi tinggi dapat menyebabkan efek sistem saraf pusat yang ditandai dengan mual, sakit kepala, pusing, tidak sadar dan koma. Menghirup uap dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Kronis: Kontak kulit yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan penghilangan lemak dan dermatitis. Dapat menyebabkan reaksi alergi kulit di beberapa
Penanganan
Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali angkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis segera. Kulit: Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang atau berlanjut. Bilas kulit dengan banyak sabun dan air. Tertelan: Jika korban sadar dan waspada, berikan 2-4 cangkir susu atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadarkan diri. Dapatkan bantuan medis segera. Terhirup: Dapatkan bantuan medis segera. Hapus dari paparan dan pindahkan ke udara segar segera. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernafas, berikan oksigen. Catatan untuk Dokter: Tes aseton urin dapat membantu dalam diagnosis. Penangkal: Tidak ada yang dilaporkan
Komentar
Posting Komentar