LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I KELOMPOK 1 - LARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I
LARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
Kelompok 1 :
1. Nurhaliza Hafifa (11220960000081)
2. Fauzan Bahrudin (11220960000091)
3. Fajar Nur Isro (11220960000101)
Kelas : 1 Kimia C1
Dosen : Ahmad Fathoni, M.Si
PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Larutan adalah campuran homogen yang
terdiri dari dua substansi atau lebih dimana bagianterlarutnya berupa ion atau
molekul. Larutan terdiri dari solvent atau zat pelarut dan solute atau zat
terlarut. Pada umumnya bagian larutan yang berjumlah banyak disebut pelarut dan
yang berjumlah sedikit disebut terlarut. Baik solvent maupun solute dapat berbentuk
padat, cair, dan gas (Sugiyono, 2004).
Istilah like dissolves like merupakan
azas umum dari kelarutan, dimana senyawa ion dan polar larut dalam pelarut
polar dan senyawa nonpolar larut dalam pelarut nonpolar. Air adalah pelarut
polar. Air melarutkan senyawa ion seperti garam dapur, NaCl, dan senyawa polar
seperti gula, C12H22O11. Karbon tetra klorida adalah pelarut nonpolar dan
melarutkan senyawa non polar. Pelarut nonpolar tidak dapat melarutkan senyawa
ion atau senyawa polar (Nurhasni, dkk, 2017).
Petrucci, 1987 menyatakan perbedaan
antara senyawa ion dan senyawa kovalen terletak pada:
1.
Pada senyawa ion, titik leleh rendah, sdangkan pada senyawa kovalen titik leleh
tinggi.
2.
Senyawa ion larut dalam air dan hanya sebagian yang larut dalam pelarut nonpolar,
sedangkan pada senyawa kovalen, larut dalam pelarut non polar, namun hanya
sebagian yang larut dalam air.
3.
Senyawa ion pada suhu kamar berupa padatan, sedangkan senyawa kovalen dalam
suhu kamar, berupa gas atau cairan.
4.
Senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan senyawa kovalen hanya
sebagian yang dapat menghantarkan arus listrik. 5. Senyawa ion dapat terbakar
dan tidak berbau, sedangkan pada senyawa kovalen dapat terbakar dan berbau.
Air adalah pelarut polar. Air
melarutkan senyawa ion seperti garam dapur, NaCl, dan senyawa polar seperti
gula, CH20. Karbon tetra klorida adalah pelarut nonpolar dan melarutkan senyawa
non polar. Pelarut nonpolar tidak dapat melarutkan senyawa ion atau senyawa
polar (Nurhasni, dkk., 2017).
Zat cair yang larut satu sama lain
disebut saling bercampur. Bila kedua zat cair mempunyai ikatan polar akan
saling melarut. Dua zat cair yang nonpolar juga larut satu sama lain, tetapi
zat cair polar dengan zat cair nonpolar saling tidak bercampur, terjadi
tolak-menolak satu sama lain dan akan terpisah jadi dua lapisan. Proses
pelarutan hanyalah merupakan aksi antara pelarut dengan partikel zat terlarut.
Molekul-molekul pelarut menyerang partikel zat terlarut dan menyeretnya ke
dalam larutan. Kecepatan pelarutan tergantung pada kecepatan pelarut menyerang
zat terlarut (Nurhasni, dkk.. 2017).
Raymond Chang, 2003 menyatakan dalam cairan
dan padatan, molekul- molekul saling terikat akibat adanya tarik-menarik
antarmolekul. Gaya ini juga memainkan peran penting dalam pembentukan larutan.
Bila suatu zat (zat terlarut) larut dalam zat lainnya (pelarut), partikel zat
terlarut akan menyebar ke seluruh pelarut. Partikel zat terlarut ini menempati
posisi yang biasanya ditempati oleh molekul pelarut. Kemudahan partikel zat
terlarut menggantikan molekul pelarut bergantung pada kekuatan relative dari 3
jenis reaksi:
1.
Interaksi pelarut-pelarut
2.
Interaksi zat terlarut-zat terlarut
3.
Interaksi pelarut-zat terlarut
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kecepatan disolusi suatu zat antara Iain: suhu, pH, pengadukan, ukuran partikel
dan sifat permukaan zat (Martin, 1990). Santi Sinila, 2016 menyatakan kecepatan
kelarutan dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
1.
Ukuran partikel. Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel; makin luas
permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut.
2.
Suhu. Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelarutan solute.
Pengaruh zat terlarut terhadap
kelarutan dapat dilihat dengan cara membandingkan kecepatan melarutnya garam
dapur berbutir kasar dan serbuk halus dalam air yang volumenya sama. Diperoleh,
garam dapur berbutir kasar akan lebih lambat melarut dibandingkan dengan serbuk
halus (Dian Wuri A, 2009).
Raymond Chang, 2005 menyatakan larutan lewat jenuh (supersaturated solution) mengandung lebih banyak zat terlarut dibandingkan yang terdapat di dalam larutan jenuh. Larutan lewat jenuh bukanlah larutan yang sangat stabil. Pada saatnya, sebagian zat terlarut akan terpisah dari larutan lewat jenuh sebagai kristal. Proses terpisahnya zat terlarut dari larutan dan membentuk kristal dinamakan kristalisasi (crystallization).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1
Alat
Alat yang dibutuhkan adalah 12 buah tabung reaksi, rak tabung reaksi, batang pengaduk, hotplate, botol semprot, gelas piala 600 ml, gelas ukur 100 ml, pipet tetes, spatula.
3.2
Bahan
Bahan yang dibutuhkan adalah kalium
permanganat (KMnO4), naftalena, heksana (C6H14), metanol (CH3OH), etanol (C2H5OH),
aseton (C3H6O), sukrosa, natrium asetat trihidrat (NaC2H3O2.3H2O).
3.3
Metode Percobaan
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
Pada percobaan like dissolve like
membuktikan bahwa kelarutan dipengaruhi jenis pelarut dan senyawa atau larutan
yang dilarutkan. Pada percobaan pertama yaitu kelarutan yang H2O + KMnO4 warna
yang dihasilkan dari percobaan ini adalah ungu tua yang dihasilkan dari
pencampuran kalium permanganat dan aquades dan teriarut dengan baik setelah
dihomogenkan. Terdapat ikatan hidrogen dimana terdapat ujung negatif karena
atom pusat O memiliki elektron bebas dan ujung positif yang dimiliki arom H
(polar) yang dapat berikatan dengan kalium permanganat (KMnO4). Wama ungu yang
dihasilkan oleh kalium permanganat (KMnO4) itu dikarenakan sifat dari KMnO4
yang mudah larut dalam air.
Pada tabung kedua kalium permanganat
terlarut dengan baik dengan metanol karena keduanya sama-sama bersifat polar
dan menyebabkan terjadinya perubahan warna menjadi ungu gelap. Pada tabung ketiga
berisi 2 mL aseton, kalium permanganat larut baik dalam aseton karena aseton
bersifat semi polar. Jadi, aseton dapat larut dalam kalium permanganat yang
bersifat polar dan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu pekat.
Pada percobaan keempat yaitu C6H14 +
KMnO4 tidak terjadi pelarutan pada percobaan ini dikarenakan oleh mengendapnya
potassium (KMnO4) pada dasar tabung. Hal ini terjadi karena heksana (C6H14) itu
bersifat non polar, tidak memiliki kutub (+) dan kutub (-), akibat meratanya
distribusi elektron dan tidak memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk
molekul diketahui) atau keelektronegatifannya sama (Zerro, 2017).
Pada proses kelarutan senyawa
menggunakan naftalena. Pada percobaan pertama yaitu melarutkan naftalena dengan
aquades. Hasil yang didapatkan adalah air dengan naftalena tidak dapat saling
melarutkan dikarenakan naftalena merupakan senyawa non polar dan air merupakan senyawa
polar sehingga terbentuk endapan di dalam tabung reaksi.
Pada percobaan kedua yaitu melarutkan
naftalena dengan metanol. Hasil yang didapatkan adalah bahwa naftalena dengan
metanol mengalami kelarutan secara tidak merata dan sedikit larut.
Proses pencampuran senyawa dengan
menggunakan etanol, aseton, heksana. Pada percobaan pertama yaitu mencampurkan
aquades dengan etanol diperoleh hasil bahwa keduanya tercampur merata karena
gaya tarik menarik antara air dan etanol cukup besar. Pada percobaan kedua,
yaitu mencampurkan aquades dengan aseton. Hasil yang diperoleh adalah bahwa aseton
dapat tercampur di dalam air setelah dikocok selama beberapa kali. Aseton
merupakan senyawa semi polar dan air merupakan senyawa polar sehingga interaksi
dipol-dipol di antara kedua senyawa tersebut cukup kuat. Pada percobaan ketiga
yaitu mencampurtan heksana dengan aquades didapatkan hasil bahwa terdapat
lapisan pembatas antara air dengan beksana, dimana heksana berada di atas air.
Hal ini disebabkan karena air yang bersifat polar tidak dapat melarutkan heksana
yang bersifat non polar.
Pada proses percobaan menentukan
kecepatan pelarutan terdapat faktor-faktor yang dapat memengaruhi kelarutan
yaitu meliputi faktor tekanan, keadaan dari bagian zat yang terlarut, dan
pengadukan secara fisik. Kelarutan suatu zat kimia murni untuk laju larut yaitu
kecepatan zat tersebut melarut, tergantung pada ukuran partikel dari zat,
pengadukan, dan luas permukaan kontak dengan pelarut dimana semakin halus luas
permulaan maka semakin cepat proses untuk melarut (Nurachma, linawati, 2015).
Dalam demonstrasi larutan aquades
dengan kristal natrium asetat trinidrat, larutan menjadi tak jenuh pada saat
tabung reaksi yang berisi natrium asetat trihidrat yang ditambalikan aquades
dipanaskan di penangas air. Kemudian setelah tabung reaksi didiinginkan dan
membentuk endapan, larutan menjadi tepat jenuh akibat sejumlah solute yang larut
telah setimbang dengan solute padatnya. Selanjutnya setelah didinginkan dan
ditambahkan sedikit natrium asetat trihidrat dan ditambahkan 20 tetes aquades
dan dikocok, lalu larutan membentuk kristal dan mengalami perubahan menjadi
larutan lewat jenuh karena larutan lebih banyak mengandung solute, dalam reaksi
ini juga terjadi perubahan warna menjadi putih pekat.
BAB V
KESIMPULAN
1. Dapat mengetahui bahwa heksana, air, etanol merupakan senyawa kovalen dan kmno4 merupakan senyawa ion
2. Dapat menghasilkan larutan homogen dan larutan yang tidak homogen bergantung dari kesamaan kepolaran larutan atau senyawa zat terlarut dengan pelarutnya atau dengan ion sejenis. Jika larutan tidak homogen maka membentuk dua atau lebih fasa.
3. Mengetahui bahwa kecepatan kelarutan dipengaruhi suhu yang tinggi, pengadukan, ukuran partikel senyawa yang dilarutkan, serta banyaknya senyawa pelarut yang ditambahkan.
4. Larutan tak jenuh bila berubah warna menjadi agak keruh atau belum pekat dan tepat jenuh saat warna berubah semakin pekat serta jika sudah terlihat padatan mengendap atau tidak terlarut, maka dinamakan lewat jenuh.
DAFTAR PUSTAKA
Sugivono, 2004. Kimia Pangan. Yogyakarta: Fakultas
Teknik Universitas Yogyakarta
Nurachma, Lisnawati, 2015. Senyawa Polar dan Non
polar, Makasar Universitas Pancasakti
Nurhasni, DKK 2017. Buku Pedoman Praktikum Kimia
Dasar Jakarta: Program studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Chang,R. 2003. Kimia Dasar. Jakarta: Pt.Gramedia
Pustaka.
Zerro. 2017. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.
Wuri, Dian A. 2009. Ilmu Kimia Analitik. Jakarta: Pt.Gramedia
Pustaka.
Petrucci. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan
Modern. Jakarta: Erlangga.
Evaluasi Post Praktikum
1.) Terangkanlah
istilah like dissolve like dan jelaskan apakah prinsip like dissolve like
terjadi pada semua jenis campuran?
Like dissolve like adalah prinsip kelarutan yaitu pelarut hanya akan melarutkan sejenisnya, seperti pelarut polar akan melarutkan senyawa polar dan pelarut non polar akan melarutkan senyawa non polar. Jadi, semua jenis campuan akan sesuai dengan prinsip ini.
2) Jelaskan faktor yang mempengaruhi kelarutan senyawa ion dan senyawa kovalen
- Suhu → berpengaruh secara signifikan apabila fase reaktan memiliki fasa padat atau gas.
- Jenis pelarut → suatu senyawa akan larut apabila memiliki tingkat kepolaran yang sama dengan pelarutnya.
- pH → kelarutan dari garam-garam yang berasal dari asam lemah bergantung pada larutannya.
3) Jelaskan faktor yang
mempengaruhi kecepatan pelarutan suatu senyawa dalam pelarut!
· - Ukuran zat
tarlarut → semakin luas permukaan, semakin banyak permukaan partikel yang
saling bertumbukan satu dengan lainnya. Hal ini mengakibatkan proses pelarutan
lebih cepat.
· - Volume pelarut →
semakin banyak volume pelarut yang digunakan, semakin cepat pula suatu zat akan
melarut.
· - Kecepatan pengadukan → cara yang dapat dilakukan agar proses pelarutan suatu zat berjalan lebih cepat.
4) Jelaskan ciri
larutan bersifat tak jenuh, tepat jenuh dan lewat jenuh!
Larutan tidak jenuh adalah larutan yang masih bisa melarutkan zat terlarut, larutan jenuh yaitu laruran yang tidak bisa lagi melarutkan, sedangkan larutan lewat jenuh adalah larutan yang jumlah zat terlarutnya melebihi kemampuan larutnya.
5) Bagaimana mengubah
larutan lewat jenuh menjadi larutan tak jenuh?
Dengan menambahkan kristal
yang kecil (kristal inti/bibit) umumnya kristal dart solute. Kelebihan molekul
solute akan terikat pada kristal inti dan akan mengkristal kembali.















Komentar
Posting Komentar